HARIANACEH.co.id¬†—¬†Bupati Empat Lawang Budi Antoni Al-Jufri (BAA) dan istrinya Suzanna Budi Antoni (SBA) ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kericuhan mewarnai peristiwa tersebut.

“Untuk kepentingan penyidikan, tersangka BAA (Budi Antoni Aljufri) ditahan di rumah tahanan kelas I Jakarta Timur cabang KPK di Detasemen Polisi Militer (Denpom) Guntur dan SBA (Suzanna Budi Antoni) di rutan kelas I Jakarta Timur cabang KPK di gedung KPK selama 20 hari pertama,” kata Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK Priharsa Nugraha aaat dikonfirmasi, Senin (6/7/2015).

Keduanya keluar sekitar pukul 19.30 usai diperiksa KPK sejak pukul 10.00 WIB. Pasangan suami istri itu tampak mengenakan rompi oranye khas KPK. Mereka bungkam tak mau berkomentar.

Baca Juga:  7 PNS Ditangkap Karena Berjudi di Balai Kota

Puluhan pendukung berusaha melindungi Budi dari sorotan kamera wartawan. Akhirnya kericuhan tak terhindari akibat gesekan antara pendukung Budi dan para jurnalis. Kejadian itu baru bisa dihentikan setelah petugas pengamanan KPK turun tangan.

Budi Antoni dan Suzanna resmi menjadi tersangka di KPK, Kamis, 2 Juli lalu. Hari ini merupakan pemeriksaan perdana mereka usai ditetapkan sebagai tersangka. Keduanya diduga menyuap Akil Mochtar saat menjabat sebagai hakim Mahkamah Konstitusi (MK) dalam penanganan pilkada Empat Lawang pada 2013.

Pelaksana Tugas Pimpinan KPK Johan Budi menerangkan, kasus ini merupakan pengembangan perkara dugaan korupsi terhadap Akil. Akil, diketahui, sudah menjadi divonis bersalah dan harus menjalani pidana penjara seumur hidup.

Dalam surat dakwaan Akil disebutkan, pada Juli 2013, Budi menyuruh Suzanna mengantar duit sekitar Rp10 miliar ke BPD Kalbar cabang Jakarta bersama Muhtar Effendy, yang disebut-sebut sebagai makelar suap Akil. Duit itu lantas diterima oleh Iwan Sutaryadi, wakil kepala cabang bank, bersama dua anak buahnya, Risna dan Rika, untuk disimpan di brankas bank.

Baca Juga:  Larangan Demo 2 Desember Dicabut Kapolri, GNPF MUI Gelar Demo di Monas

Beberapa hari kemudian, Suzanna dan Muhtar kembali menitipkan USD500 ribu ke Iwan. Kepada penyidik, Iwan, Risna, dan Rika mengakui Muhtar memang pernah menitipkan duit sebesar Rp15 miliar. Akil pun didakwa menerima Rp15 miliar melalui perantara Muhtar untuk memenangkan gugatan Budi itu.

Atas perbuatannya, pasangan suami-istri ini diduga melanggar pasal 6 ayat 1 huruf a Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP. Mereka dapat dikenakan ancaman hukuman hingga 15 tahun penjara dengan denda maksimal hingga Rp750 juta.

loading...