HARIANACEH.co.id — Terkait kejadian teror terhadap salah seorang Hakim Mahkamah Syariah Jantho Aceh Besar, Reza Vahlevi (38) pada jumat 10 Juli 2015 lalu, menandakan bahwa tingkat pemahaman segelintir orang terhadap produk-produk Hukum khususnya di Aceh sangatlah minim, mereka lebih cenderung memikirkan dengan cara penyelesaian semena-mena tanpa melibatkan aparat hukum Pengadilan apabila ini ada hubungannya terhadap proses suatu perkara di Meja Hijau, atau dengan melibat aparat Kepolisian apabila hal ini terkait persoalan Pribadi sang Hakim.

Sungguh sangat disayangkan teror meneror masih saja terjadi di Bumi Serambi Mekkah apalagi terjadi dalam bulan suci Ramadhan ini. Hal ini tentu mencerminkan kalau kita sekarang bangsa Aceh susah menerima norma-norma keadillan atau boleh jadi melenceng dari norma tersebut. Ini akan membawa dampak negatif pada kebiasaan setiap permasalahan kedepannya yang dialami oleh seseorang, mereka yang mempunyai masalah cenderung mengambil jalan nekat tanpa pikir panjang untuk menyelesaikannya.

Baca Juga:  Jufri Hasanuddin: Terima Kasih Pak Basir

Kejadian Teror tersebut dialami oleh salah seorang hakim yang tentu akan berpengaruh terhadap aparat penegak hukum lainnya khususnya seorang hakim apabila mengambil keputusan terhadap suatu perkara di meja hijau.

Bangsa kita mempunyai aturan, menjunjung tinggi aturan serta melaksanakan aturan sesuai dengan aturan yang berlaku. Kebiasaan mereka-mereka yang mengambil jalan pintas apabila terjadi masalah seperti ini tidak boleh dibiarkan, si pelaku kejahatan tersebut harus dihukum sesuai dengan aturan yang berlaku, dan akan menjadi efek jera bagi setiap insan yang mempunyai masalah apabila ingin menyelesaikannya dengan cara-cara yang bersifat radikal seperti ini.

Apalagi kejadian teror tersebut dialami oleh seorang Hakim Mahkamah Syariah, tentu ini menjadi image yang tidak baik bagi kita orang Aceh, yang sekarang kita sedang semangatnya bersama-sama ingin membangun Aceh.

Baru saja Rakyat  pulih dari Konflik berkepanjangan, yang tentu juga membawa trauma bagi sebagian orang yang memiliki kisah tidak baik zaman konflik Aceh dulu. Cukuplah beberapa Perampokan-perampokan yang terjadi di Aceh pada awal MoU Helsinky yang kembali menghantui Rakyat Aceh pasca Konflik berkepanjangan, atau kasus tembak-menembak pasca Pemilukada 2012 silam, atau juga aksi yang dianggap radikal yang baru-baru ini kembali tenar di Aceh.

Baca Juga:  Wakil Bupati Pidie Jabat Ketua Pembina Yayasan Jabal Ghafur Baru

Oleh karena ini, kesadaran untuk berbenah ke arah yang lebih baik harus benar-benar sungguh di mulai dari diri sendiri sekarang ini bila kita ingin Tanah Aceh ini menjadi Tanah yang berperadaban yang menjunjung tinggi nilai agama, budaya dan adat istiadat sesuai julukannya Serambi Mekkah.

Harapan kita, aparat Penegak hukum yang menjadi tumpuan kita bersama  untuk menyelasaikan beberapa kasus teror seperti ini dapat segera menuntaskannya, karena menurut penilaian kami, kasus ini bukanlah kasus yang amat rumit serumit kasus penembakan di Pemilukada 2012 silam atau serumit kasus kelompok Radikal yang baru saja tenar di Aceh sekarang ini. Kita sangat percaya, aparat penegak hukum akan mampu dan segera menangkap si pelaku teror tersebut.(HAI/Reza)