HARIANACEH.co.id — Partai oposisi Myanmar yang dipimpin penerima hadiah Nobel Aung San Suu Kyi mengumumkan pada Sabtu (11/7/2015) lalu akan ikut dalam pemilihan umum pada 8 November mendatang. Walaupun transparansi pemilihan ini menjadi pertanyaan, keputusan ini dibuat untuk menantang partai dukungan militer yang berkuasa. “Kami akan ikut dalam pemilihan untuk melanjutkan transisi demokrasi yang belum tercapai,” kata Suu Kyi kepada wartawan di ibukota Myanmar, Naypyitaw.

Suu Kyi masih tidak bisa berpartisipasi dalam pemilihan presiden setelah parlemen menolak rencana amandemen konstitusi baru-baru ini. Pada 2010, partainya memboikot pemilu karena mereka anggap ada kecurangan dalam pelaksanaannya. Partainya lalu ikut dalam pemilihan 2012 seelah beberapa perubahan dibuat dengan memenangi hampir semua kursi yang diperebutkan.

Baca Juga:  Presiden Jokowi Mengubungi Saudi dan Iran, Tengahi Konflik

Myamar berada di bawah kuasa militer sejak 1962 sampai 2011, saat Persatuan Solidaritas yang didukung militer dan Partai Pembangunan mengambil alih. Presiden Thein Sein, pemimpin senior di junta militer kemudian memperkenalkan reformasi yang mengejutkan, terutama dalam bidang ekonomi. Namun sampai kini, pertumbuhan ekonomi negara itu masih lambat dan militer masih jadi pemegang kendali utama negeri itu. Saat ditanya apakah pemilihan kali ini bisa bebas dan adil, Suu Kyi menjawab: “Tidak sepenuhnya.”

Sebelumnya partai Suu Kyi telah berkali-kali mengeluh pemilihan umum tidak akan pernah bebas atau adil jika konstitusi Myanmar tidak diamandemen. Konstitusi tersebut diberlakukan selama rezim militer dan memberikan ruang yang besar bagi militer dalam administrasi negara. Satu pasal mengharuskan ada 25 persen kursi parlemen untuk militer. Akibatnya, mereka punya kekuatan veto atas amandemen konstitusi.

Baca Juga:  Obama 'Kampanye' Gantikan Clinton Untuk Serang Donald Trump

Partai Suu Kyi hampir menduduki kekuasaan pada 1990 ketika mereka meraih kemenangan tipis di pemilu. Saat itu juga Suu Kyi -putri pahlawan kemerdekaan Jenderal Aung San- menjadi figur politik paling populer Myanmar. Namun pada akhirnya ia dan teman-teman seperjuangannya ditahan karena perolehan suara yang mereka miliki dianggap tidak sah oleh militer.

Sejumlah 498 kursi di majelis rendah dan tinggi, 644 kursi parlemen pusat dan daerah serta 29 kursi yang mewakili kelompok etnis akan diperebutkan November nanti.

loading...