HARIANACEH.co.id — Dalang kerusuhan di Distrik Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua kini sedang diburu pihak Kepolisian setempat, yang terjadi tepat pada perayaan Idul Fitri, Jumat pekan lalu. Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Badrodin Haiti mengatakan, hingga kemarin, penyelidikan untuk mencari pelaku dan provokator kerusuhan itu masih berlangsung dengan meminta keterangan sejumlah saksi.

Dari pemeriksaan tersebut, kata Badrodin, kepolisian telah mengantongi sejumlah calon tersangka. Namun dia enggan menyebutkan detail soal jumlah dan identitasnya. “Kami masih melengkapi alat bukti,” ujarnya ketika ditemui di Markas Besar Kepolisian RI, Jakarta Selatan, kemarin.

Menurut dia, kepolisian akan menjerat para tersangka dengan pasal berlapis, seperti penodaan agama dan perusakan fasilitas umum. “Biasanya polisi men-juncto-kan pasal supaya semua bisa kena,” ujarnya.

Sehari setelah kerusuhan meletus, Sabtu lalu, Badrodin terbang ke Karubaga, Tolikara, untuk melihat langsung lokasi insiden. Di distrik yang terletak sekitar 265 kilometer arah barat daya Kota Jayapura tersebut, dia bertemu dengan sejumlah tokoh masyarakat untuk mengetahui akar kerusuhan.

Baca Juga:  Ruhut: SBY Bersedia Bertemu Megawati, Tapi Jangan Utusan

Bentrokan terjadi pada Jumat pagi lalu, ketika puluhan orang yang diduga anggota jemaat Gereja Injili di Indonesia (GIDI) memprotes penyelenggaraan salat Id di lapangan Markas Komando Rayon Militer (Makoramil) 1702-11, Karubaga. Mereka berdalih telah memberitahukan agar kegiatan ibadah Lebaran tak dilaksanakan di daerah tersebut karena berbarengan dengan acara seminar dan kebaktian kebangunan rohani (KKR) pemuda GIDI.

Polisi yang mengamankan lokasi sempat mengeluarkan tembakan peringatan. Namun massa mengamuk hingga menyebabkan puluhan kios dan sebuah musala di sekitar lapangan habis terbakar. Seorang korban tewas dan belasan lainnya luka-luka terkena tembakan peluru.

Badrodin mengatakan polisi akan memeriksa Pendeta Nayus Wenda dan Marten Jingga. Ketua dan Sekretaris Badan Pekerja GIDI Wilayah Tolikara tersebut akan dimintai klarifikasi mengenai surat yang diduga mereka teken pada 11 Juli lalu. Selain memberitahukan penyelenggaraan seminar dan KKR pemuda GIDI pada 13-19 Juli 2015, surat itu berisi larangan perayaan Lebaran dan pengenaan jilbab di Tolikara.

Baca Juga:  Pertemuan Secara Formal Siap Digelar Juru Runding Dua Kubu Golkar

Menurut Badrodin, Kepala Polres dan Bupati Tolikara telah bertemu dan berkomunikasi dengan panitia seminar dan KKR pemuda GIDI pada 15 Juli lalu. Dalam pertemuan itu, telah ada kesepakatan untuk meralat surat tersebut. “Saya melihat ada miskomunikasi dan pesan yang terputus di sini,” kata Badrodin. “Surat yang diralat itu belum sempat tersosialisasi dan disampaikan secara tertulis.”

Tim Advokasi Muslim kemarin juga melaporkan Nayus Wenda dan Marten Jingga ke Badan Reserse Kriminal Mabes Polri. Gara-gara surat mereka, kata Wakil Ketua Tim Advokasi Muslim, Rizal Fadillah, kerusuhan terjadi dan berujung pada terbakarnya musala di Tolikara. “Kami meminta polisi menangkap dua orang tersebut,” kata Rizal.

Adapun Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Papua, Komisaris Besar Rudolf Patrige Renwarin, mengatakan, hingga kemarin siang polisi telah memeriksa 27 orang. Sebanyak 21 orang adalah warga sipil yang diperiksa berkaitan dengan pembakaran kios, rumah, dan masjid. “Enam orang di antaranya adalah aparat kepolisian terkait tertembaknya 11 orang warga sipil,” kata Patrige.

loading...