,

Bagaimana Masjid Bisa Berdiri di Tolikara, Inilah Kisahnya

HARIANACEH.co.id — Garis polisi warna kuning melilit satu bangunan yang letaknya berseberangan dengan lapangan markas Koramil 1702-11 Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua.  Sementara bangunan kios yang jumlahnya puluhan tanpa garis polisi.

Papan nama yang tergeletak di lantai bangunan yang dililit garis polisi itu memberi petunjuk bahwa bangunan itu sebelumnya berfungsi sebagai tempat ibadah umat Muslim di Tolikara.  Papan itu bertuliskan : Masjid Baitul Muttaqim , Jl. Irian No.01 Kec. Karubaga KAB. TOLIKARA.

Menurut Ustad Ali Mukhtar, masjid itu memang dibangun tanpa sepengetahuan dan seizin dari pemerintah setempat dan masyarakat Tolikara. Selama ini, Pengurus Gereja Injili di Indonesia (GIDI) melarang rumah ibadah apapun didirikan tanpa seizin tokoh-tokoh masyarakat Tolikara.

Menurut ustad Ali, musalah berdiri tahun 1987. Masyarakat  bekerja sama mendanai pendirian musalah. Ukuran musalah  5 x 5 meter persegi.  Jumlah umat muslim yang terus bertambah membuat   musalah diperbesar menjadi berukuran 11 x 11 meter persegi dan berdempetan dengan kios milik warga. Nama musalah pun berubah jadi masjid.   Namun  tidak ada yang melarang atau mendesak musalah atau masjid  ditutup.

“Kami di sini tidak pernah dilarang atau suruh bongkar. Karena itu sudah lama. DPRD di sini bilang silahkan lanjut karena sudah berdiri lama,” kata Ali .

Seingat Ali, ia hanya pernah ditemui 32 orang yang terdiri dari tokoh agama Kristen Tolikara, mahasiswa, tokoh adat, dan pemimpin daerah setempat. Mereka , ujar nya, meminta umat Muslim yang akan merayakan hari besar keagamaannya untuk mengajukan izin terlebih dahulu .

Warga Muslim di Tolikara umumnya pendatang berasal dari Sulawesi Selatan, pulau Jawa, dan Sumatera.  Bupati Tolikara, Usman G Wanimbo membenarkan pendirian musalah dan kemudian berubah jadi masjid itu tanpa ada izin dari tokoh dan warga setempat. Tolikara merupakan wilayah yang semua penduduk aslinya merupakan anggota GIDI.

Ketiadaan izin itu  tidak dipersoalkan GIDI maupun pemda setempat selama ini,  Hingga terjadi rusuh pada Jumat pekan lalu dan terjadi pembakaran puluhan kios dan musalah.  “Saya baru tahu itu masjid, selama ini saya tahu musala,” ujarnya di rumah dinasnya, Jumat pagi (24/7/2015).

Di pemberitaaan media nasional, ada yang menyebut musalah dan ada yang menyebut masjid. Papan nama itu tidak tertulis musala, namun masjid. Letak masjid ini  berdempetan dengan kios dan tanpa kubah.

Bupati Usman menyebutkan  jumlah umat Muslim di Tolikara berkisar 200 orang. Sebagian besar mereka di Tolikara sebagai pedagang. “Mereka datang dan  tinggal di Wamena dan punya toko di sini,” katanya.

loading...

Andrea Ranocchia Akui Sangat Terkesan Dengan Geoffrey Kondogbia

Di Tolikara, Salah Satu Ustadz Ini Disapa Gembala