HARIANACEH.co.id — Siang itu, Kamis (30/7/2015), mentari begitu menyenggat seakan membakar  kulit. Tepat sebelum azan Zuhur, awak media tiba di lahan bekas pabrik kertas Desa Bayeun Kecamatan Rantau Selamat Kabupaten Aceh Timur yang kini menjadi tempat penampungan pengungsi asal Myanmar dan Bangladesh.

Setiba di lokasi setelah menempuh perjalanan selama 15 menit dari Kota Langsa. Wartawan Harian Aceh Indonesia  terenyuh dan miris melihat menu santap siang pengungsi imigran.

Betapa tidak, para imigran tersebut hanya disuguhkan satu porsi nasi putih dan sebutir telur ayam sebagai menu makan siang yang telah dipersiapkan petugas dapur umum di lokasi pengungsian itu.

“Tidak makan, biar nanti saja. Belum lapar dan lauknya hambar” ujar Zubair imigran Myanmar di kamp penampungan Bayeun, Kamis siang.

Menurutnya, menu yang tersaji hambar tidak berasa. Itulah penyebab dia dan sejumlah imigran lain enggan bertandang ke dapur umum untuk mengambil jatah makan siang mereka.

Padahal, sejumlah logistik bantuan berbagai pihak tampak banyak tersusun rapi di salah satu tenda biru bertuliskan BPBD.

Sementara, sejumlah etnis Bangladesh dan Myanmar lebih memilih mengkonsumsi mie instan dari pada mengambil jatah makanan yang telah disediakan.

Baca Juga:  Komisi VII DPR Aceh Bahas Raqan Sistem Jaminan Halal

Hanya anak-anak dan sedikit wanita yang datang mengambil jatah makan siangnya di dapur umum. Sisanya seratusan imigran lain enggan menyantap menu tersebut.

Selain persoalan makanan, ada pula persoalan lain yang mendera para pengungsi imigran itu. Seperti yang dialami Muhammad Zainun, remaja asal Myanmar itu mengalami kehilangan telepon selular miliknya.

Dikatakan, handphone dia satu unit diambil pihak imigrasi karena ada beberapa imigran yang melarikan diri dari kamp Bayeun beberapa waktu lalu.

Kemudian, ia kembali membeli telepon selular untuk kedua kalinya. Akan tetapi lagi-lagi diambil oknum polisi yang hingga saat ini belum dikembalikan.

“Police pinjam, tapi sudah tak kembali sejak lama,” ujar Zainun dalam bahasa Inggris bercampur melayu yang terbata.

Kemudian dari hasil penelusuran dari berbagi informasi yang dihimpun, bahwa ada indikasi terjadi praktik sewa kamar cinta bagi imigran yang memang pasangan suami istri.

Sekretaris Posko Pengungsian Bayeun, Rudi Selamat ketika dikonfirmasi di lokasi penampungan membantah jika ada praktik sewa kamar untuk imigran yang pasangan suami istri guna melampiaskan hasrat biologisnya.

“Tak ada sewa kamar, yang benar posko menempatkan tiga pasangan suami isteri warga negara asing itu di tiga kamar yang dibangun oleh pihak Internasional Organization for Migration (IOM),” jelas Rudi.

Baca Juga:  Siswa SD Sumbang Dana Aksi Damai 212

Rudi juga mengklarifikasi terkait menu makanan yang disiapkan pihak dapur umum. Menurut dia, selera makan imigran Myanmar dan Bangladesh berupa nasi, ikan asin, cabai dan garam.

Sementara untuk menu yang lainnya imigran tersebut tidak begitu menyukainya.

“Hari ini memang menu telur ayam rebus, nasi putih dan sayur kol. Mereka tak suka jadi hanya mengambil nasi putih saja,” paparnya.

Lebih lanjut, Rudi menuturkan stok bantuan yang ada di posko banyak berupa makanan kaleng seperti sarden. Makanya pihak dapur umum tidak menyajikan menu itu karna etnis rohingya kurang suka.

Untuk telepon selular yang digunakanbpengungsi memang dilarang oleh pihak imigrasi.

Hal itu dilakukan untuk meminimalisir terjadinya akses dari luar posko yang berimbas pada larinya pengungsi seperti yang terjadi beberapa waktu lalu.

“Imigrasi memang melarang para pengungsi mengunakan telepon genggam agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan,” pungkas Rudi yanga juga Kepala Bagian Kesra Setdakab Aceh Timur itu. (HAI/Herman)

loading...