HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

WNI Akhirnya Dibebaskan setelah Ditahan karena Bawa Peluru di Brunei

7

HARIANACEH.co.id – Seorang warga negara Indonesia (WNI) yang ditangkap di Brunei Darussalam pada Mei 2015 lalu, akhirnya dibebaskan. WNI itu ditangkap karena dugaan membawa bahan peledak.

Rustawi Tomo Kabul (RTK) bersama dua WNI lainnya ditangkap di Bandara Internasional Brunei pada Sabtu, 2 Mei 2015 ketika sedang transit menuju Jeddah, Arab Saudi untuk Umrah. Ketiga WNI tersebut berasal dari Malang, yaitu:  Rustawi Tomo Kabul dan istrinya, Pantes Sastro Prajitno dan Bibit Hariyanto Dai yang merupakan ketua rombongan Umrah itu.

Pria berusia 63 tahun itu ditangkap oleh Polisi Brunei karena ditemukan benda-benda berbahaya  (high explosive items) termasuk peluru, dalam salah satu tas miliknya.

“Sidang RTK telah dilakukan sebanyak tujuh kali, yaitu 4 Mei, 11 Mei, 25 Mei, 8 Juni, 22 Juni dan 6 Juli dan 5 Agustus 2015 di Pengadilan Negeri  Magistrat  Brunei  Darussalam. Namun,  selama  sidang ke-1  hingga  sidang ke-6, hakim belum menetapkan vonis krn hasil tes lab atas benda berbahaya tersebut belum diterbitkan secara resmi dan harus dilakukan di  Singapura,” ujar Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal, dalam keterangan tertulis seperti diberitakan Metrotvnews.com, Kamis (6/8/2015).

“Pada sidang keempat pada 8 Juni 2015, RTK diberikan status tahanan luar dengan jaminan hingga ditetapkannya vonis oleh hakim. Tahanan luar tersebut adalah permintaan KBRI BSB melalui  pengacara. Selama  menjalani  tahanan  luar  RTK ditampung di shelter KBRI Bandar Seri Begawan,” lanjutnya.

Akhirnya Pada sidang ketujuh pada 5 Agustus 2015  di Pengadilan Negeri Magistrat Brunei Darussalam,  hakim memutuskan untuk membebaskan RTK dari  tuduhan karena tidak ditemukan bukti yang kuat terkait penyelundupan benda-benda berbahaya  tersebut.

Sejak ditangka pemerintah melalui KBRI Bandar Seri Begawan memberikan langkah-langkah perlindungan kekonsuleran guna memastikan RTK mendapatkan hak-hak hukumnya dan mengupayakan pembebasan. Selain itu, KBRI juga menunjuk pengacara untuk memberikan pembelaan di persidangan bagi RTK. Menlu Retno juga melakukan komunikasi langsung dengan Menlu Kedua Brunei, Dato Lim Jock Seng, guna mengupayakan akses kekonsuleran bagi RTK dan sekaligus mendorong proses pembebasannya.

loading...