HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Kurban dan Umrah untuk Pendidik Al-Azhar

4

HARIANACEH.co.id, KUDUS – Sebagai penghargaan terhadap para pendidiknya, Yayasan Al-Azhar yang menaungi lembaga pendidikan anak, yakni Kelompok Bermain (KB) Al-Azhar, memberikan fasilitas kurban dan umrah kepada masing-masing pendidik.

Ketua penyelenggara KB Al-Azhar, Eni Misdayani MM., mengutarakan hal itu di depan 27 pendidik (guru) saat mengikuti workshop internal yang diselenggarakan di Kampus II sekolah tersebut, Rabulalu (9/12/2015).

”Kurban kami berikan kepada guru yang telah menjalani masa tugas atau mengabdi selama 10 tahun, sedang fasilitas umrah gratis diberikan jika telah mengabdi selama 15 tahun,” ungkapnya dalam workshop bertajuk ”Meningkatkan Kualitas Pendidik dan Mendidik dengan Cinta” itu.

Kebijakan memberikan apresiasi yang demikian besar ini, karena kesadaran betapa berat tanggung jawab sebagai pendidik di PAUD. ”Menjadi pendidik PAUD bukan profesi mudah, namun harus siap menancapkan senyum riang dalam mindsetnya, sehingga hati selalu senang,” tuturnya.

Namun begitu, dia meyakini bahwa pilihan menjadi pendidik PAUD merupakan profesi mulia, karena perannya dalam menyiapkan generasi cerdas dan memiliki karakter yang baik.

”Pada usia dinilah masa terbaik dalam membentuk karakter anak, yakni melalui penanaman danpeneguhan nilai-nilai positif, sehingga anak tumbuh menjadi pribadi kokoh, kuat dan tangguh,” paparnya.

Afthonul Afif M.Psi., pakar psikologi mengutarakan hal senada. Menurutnya, pendidik di PAUD dituntut menjadi seseorang yang memiliki kepribadian kokoh, mampu mengelola emosi diri sendiri dan anak didik secara cantik (baik-Red).

”Peserta didik yang memiliki kepribadian kokoh, berawal dari pendidik yang mampu memberikan peneguhan positif dan memiliki karakter tangguh dalam mendampingi anak-anak didiknya untuk  melewati usia dini,” ungkapnya.

Beratnya tugas mendidik di PAUD ini, menurut Afif yang antara lain menulis buku Identitas Tionghoa Muslim Indonesia: Pergulatan Mencari Jati Diri (2012), Ilmu Bahagia menurut Ki Ageng Suryomentaram (2012), (2012), Pemaafan, Rekonsiliasi & Restorative Justice (2015), karena ia harus menjadi teladan bagi anak-anak didiknya. ”Guru PAUD harus benar-benar menjadi teladan yang baik. Seberat apapun persoalan di rumah, efeknya jangan sampai ke sekolah,” pesannya.

Sementara itu, selain Eni Misdayani dan Afthonul Afif, narasumber lain yang dihadirkan yaitu Rosidi (staf Humas Universitas Muria Kudus) dan Rr. Melinda Arryani S.Pd. (pengawas TK/SD Kecamatan Jekulo). Hadir pula pada kesempatan itu, Andreas Suwito S.Pd. (penilik PAUD Kecamatan Jekulo) dan H. M. Faedhoni MH. (pembina Yayasan Al-Azhar). (rel)

loading...