HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Mahasiswi Singapura dan Yayasan Geutanyoe Buat Film Dokumenter Pengungsi Rohingya di Aceh

HARIANACEH.co.id – Sejak Jum’at, 5 Desember lalu, sekelompok mahasiswi dari Universitas Teknologi Nanyang (National Technology University/NTU) Singapura tiba di Aceh. Para mahasiswi asal Singapura ini terdiri dari Goh Chiew Tong (Sutradara), Jade Hui Jing (Produser) dan Clarissa Sih (Manajer Media Sosial), ketiganya berusia 22 tahun dan menamakan team mereka sebagai Snapback Pictures. Mereka mulai melakukan pengambilan gambar film dokumenter tentang kehidupan para pengungsi Rohingya di Aceh.

Film dokumenter yang mereka rencanakan ini berjudul Peumulia Jamèë (Memuliakan Para Tamu, dalam Bahasa Aceh). Dokumenter ini akan bercerita tentang bagaimana pengungsi Rohingya yang tertindas dinegara asalnya pada akhirnya menemukan tempat berlindung di Aceh, dan bagaimana persahabatan akhirnya berhasil terbangun diantara pengungsi dan masyarakat Aceh. Dokumenter ini merupakan proyek Tugas Akhir mereka selaku mahasiswi jurusan komunikasi di NTU SIngapura.

Upaya pendokumentasian penanganan kemanusiaan para pengungsi atau pencari suaka Rohingya di Aceh ini, memperoleh dukungan Yayasan Geutanyoë, sebagai salah satu Organisasi Non–Pemerintah asal Aceh yang sejak 2013 telah melibatkan diri dalam kerja–kerja penanganan kemanusiaan terhadap para pengungsi Rohingya dan imigran Bangladesh yang mencari perlindungan dan keselamatan di Aceh.

Saat ini Yayasan Geutanyoë memfokuskan kegiatan mewujudkan kondisi hidup yang lebih baik bagi pengungsi, melalui program–program sosial dan livelihood bagi mereka yang berada di seluruh lokasi penampungan di Aceh. Selain itu, Yayasan Geutanyoë juga bekerjasama dengan masyarakat Rohingya yang berada di Myanmar dan kawasan lain di Asia Tenggaran guna mengadvokasi kebijakan komunitas ASEAN terhadap krisis pengungsi yang terjadi di Myanmar.

Pembuatan video dokumenter ini bermula dari presentasi Lilianne Fan, Direktur Internasional Yayasan Geutanyoë, dalam sebuah seminar yang difasilitasi Temasek Foundation dan Forum Jurnalisme Asia berjudul “Memberitakan Migrasi” Agustus 2015 lalu, yang menyoroti kondisi kehidupan pengungsi Rohingya di Aceh. Dari presentasi dalam seminar ini, pihak kampus NTU Singapura mewakili mahasiswinya kemudian mengajukan kerjasama produksi dokumenter penanganan kemanusiaan pengungsi Rohingya di Aceh bersama Yayasan Geutanyoë.

Dari diskusi lebih lanjut, para mahasiswi Singapura ini sangat terkesan dengan keramahan dan kemurahan hati yang ditunjukkan nelayan dan masyarakat Aceh terhadap para pengungsi. Mereka mulai memahami bahwa kebaikan ini berakar dari tradisi Peumulia Jamèë yang masih kuat dalam jiwa rakyat Aceh. Terkait aksi penyelamatan pengungsi yang dilakukan nelayan Aceh, para mahasiswi ini merasa terpanggil untuk menceritakan kepada dunia perihal hukum Adat Laut yang masih dianut para nelayan Aceh, yang mewajibkan mereka menyelamatkan sesiapa saja yang membutuhkan pertolongan di laut tanpa memandang latar belakang agama, ras, dan status sosial lainnya.

“Yayasan Geutanyoë telah bekerjasama dengan kelompok nelayan yang menyelamatkan para pengungsi yang terapung–apung dilautan, maupun dengan para tokoh pengungsi sendiri sejak pertama kali mendarat di Aceh. Pula, kita menyaksikan bagaimana rakyat Aceh menjalankan tradisinya menyelamatkan dan menyambut para pengungsi, sekaligus memperlihatkan kekuatan aksi kemanusiaan masyarakat lokal ini ke dunia” ujar Lilianne menjelaskan. “Atas dasar itulah kami kemudian menyarankan komunitas mahasiswi komunikasi Singapura ini untuk mengangkat hal ini kedalam proyek film dokumenternya, sekaligus sebuah kesempatan besar bagi masyarakat Aceh untuk menyebarluaskan kisah heroik kemanusiaan ini ke seluruh dunia”.

Sebagai tindak lanjut, Yayasan Geutanyoë kemudian memfasilitasi team dokumenter Snapback Pictures ini mewawancarai sejumlah pengungsi dan masyarakat Aceh yang terlibat dalam proses kemanusiaan ini. Para staff dan relawan kami sekaligus pula membagi pemahaman budaya Aceh dan dinamika kehidupan pengungsi kepada mereka. Yayasan Geutanyoë juga memberi dukungan akses ke lokasi penampungan pengungsi, akomodasi, transportasi, dan jasa penterjemahan. Lebih jauh, Yayasan Geutanyoë turut pula membantu supplai video dan foto–foto saat pengungsi Rohingya pertama sekali mendarat di Aceh guna memperkaya muatan dokumenter.

Perspektif Baru Penanganan Pengungsi Rohingya

“Krisis pengungsi Rohingya telah cukup mendapat liputan selama beberapa tahun terakhir, dimana tersedia sejumlah artikel dan dokumenter yang telah cukup menjelaskan sejarah Rohingya dan derita kehidupan mereka di Negara Bagian Arakan–Myanmar selama ini”, ujar Chiew, sutradara team Peumulia Jamèë.

Lebih lanjut Chiew menjelaskan, “Film dokumenter ini akan menyajikan perspektif yang lebih segar terhadap krisis pengungsian ini, dengan mengambil sudut pandang aksi kemanusiaan dari masyarakat Aceh. Alih–alih menjelaskan latar belakang dan sejarah dari konflik yang dialami Rohingya –yang memang sudah banyak dibahas pihak lain, kami justru akan mengambil fokus pada dinamika pengungsi dan masyarakat Aceh yang terlibat ditengah–tengah penanganan kemanusiaan ini” ujarnya menambahkan.

Mengambil lokasi syuting di Aceh, video dokumenter Peumulia Jamèë tidak saja hanya menjelaskan kesusahan dan ketidakpastian hidup yang dialami pengungsi, namun juga akan mengangkat kisah kasih–sayang yang dicurahkan masyarakat Aceh terhadap para pengungsi yang sebenarnya merupakan orang asing dinegerinya. “Berbeda dengan respon yang diberikan masyarakat Asia Tenggara lain seperti Malaysia dan Thailand, masyarakat Aceh justru menyambut para pengungsi yang terombang–ambing dilautan ini dengan kehangatan dan tangan terbuka”, terang Jade, produser.

Selama berada di Aceh, team Snapback Pictures telah berhasil mewawancarai sejumlah pengungsi Rohingya dan pihak terkait lainnya di seluruh lokasi penampungan di Aceh – kamp Kuala Langsa dan Lhok Bani di Kota Langsa, kamp Bayeun di Aceh Timur, dan shelter Blang Adoe di Aceh Utara. Melalui sejumlah wawancara ini, team dokumenter ini berharap dapat memahami beratnya perjuangan para pengungsi Rohingya ini yang telah dengan susah payah keluar dari negara asal dengan harapan memperoleh hidup lebih baik di luar Myanmar.

Film dokumenter juga akan mengangkat kisah para nelayan Aceh yang dengan sigap menolong para pengungsi yang terombang–ambing diluatan, serta menyoroti sejumlah tantangan yang para nelayan hadapi sebagai masyarakat lokal setelah menyelamatkan para pengungsi ini.

“Dengan dukungan Yayasan Geutanyoë, kami berhasil menjalin hubungan dengan para pengungsi Rohingya maupun masyarakat Aceh” ujar Clarissa, Manajer Media Sosial team. “Kami sangat berterimakasih kepada Yayasan Geutanyoë, karena apapun yang kami berhasil lakukan disini takkan terwujud tanpa dukungan mereka”.

Video Untuk Memantik Gerakan

“Harapan kami adalah, film dokumenter ini mampu melampaui lama tayangan yang hanya 24 menit ini, dan membuat gerakan di mana lebih banyak orang di seluruh Asia Tenggara memiliki kesadaran dan pengetahuan yang tinggi tentang krisis pengungsi ini”, ujar Chiew menambahkan.

Lebih lanjut ia berharap, melalui video dokumenter ini, dapat menggerakkan masyarakat ASEAN dan Internasional untuk dapat mengambil tindakan nyata guna membantu komunitas Muslim Rohingya yang telah diketahui merupakan minorutas paling tertindas di dunia ini. Mewujudkan harapan ini, mereka berkomitmen untuk tidak berhenti sekedar menghasilkan video dokumenter, namun akan menindaklanjutinya dengan aksi–aksi kampanye yang lain.

Tim video dokumenter Snapback Pictures dari Nanyang Technology University ini kembali ke negerinya Singapura pada Senin, 14 Desember; dan akan kembali lagi ke Aceh melanjutkan pengambilan video pada Januari 2016 mendatang.

PEUMULIA JAMEE

Output utama proyek Peumulia Jamèë ini berupa video dokumenter berdurasi 24 menit, sebagai bagian dari proyek Tugas Akhir mahasiswi jurusan komunikasi di Nanyang Technological University, Singapura.

Mengantisipasi tujuan ini, tim Snapback Pictures akan bekerja sama secara erat dengan Yayasan Geutanyoë untuk membuat gerakan dan diskusi yang jauh melampaui sekedar video dokumenter ini dengan menggunakan bahan–bahan yang berhasil dikumpulkan selama proses produksi. Dengan cara ini diharapkan, lebih banyak lagi masyarakat di Asia Tenggara dan dunia yang memiliki kesadaran yang pemahaman yang tinggi terkait krisis pengungsi yang dialami masyarakat Rohingya ini.

Hasil–hasil yang diharapkan:

  • Video Dokumenter
    Direncanakan dengan durasi 24 menit, dalam Bahasa Inggris, Rohingya dan Indonesia, serta dilengkapi subtittle English dan Bahasa Indonesia.
  • Distribusi Foto dan Video di Paltform Media Sosial
    Snapback Pictures dengan aktif mengumpulkan material foto, video, dan pendapat/opini secara ekslusif untuk didistribusikan di media sosial. Mereka akan menggunakan bahan–bahan ini untuk mengembangkan dialog lebih jauh dengan komunitas dunia maya yang terhubung dengannya, bahkan setelah pembuatan video berhasil diselesaikan.
  • Eksebisi Foto dan Dokumenter
    Snapback Pictures berniat membawa proyek ini melampaui sekedar pembuatan dokumenter, melalui eksibisi dan penayangan hasil dokumenter ini di SIngapura maupun negara lain. Melalui aksi–aksi ini mereka berharap dapat membangun diskusi dengan para pemirsa, guna mendalami pemahamanan para pemirsa terkait kompleksitas dan latar belakang krisis pengungsi Rohingya ini.
loading...