HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Asal Muasal SMONG Istilah Tsunami

Pulau Simeulue, Provinsi Aceh. FOTO/Google Earth
26.278

Oleh: Monanda Phermana

HARIANACEH.co.id — Sejumlah Informan di Pulau Simeulue memberikan indikasi yang kuat mengenai adanya kejadian Tsunami tahun 1907, yang kemudian dikenal dengan sebutan “SMONG 07“, yaitu penyebutan singkat untuk merujuk pada kejadian Tsunami pada tahun 1907.Namun demikian, selain berdasarkan pada sumber-sumber lisan dari para informan, juga menurut pada beberapa sumber tertulis lain seperti catatan-catatan peninggalan Pemerintah Kolonial Belanda dan artikel-artikel ilmiah yang membahas tentang kejadian gempa dan tsunami di wilayah Pulau Simeulue dan Sumatera pada umumnya.

Catatan Kejadian Dalam artikel berjudul “SEISMIC HISTORY And SEISMOTECTONIC In SUNDA ARC”, Newcomb and McCann (1987 : 429) memberikan sebuah deskripsi tentang kejadian gempa pada tanggal 4 Januari 1907 : “January 4, 1907. This event caused tsunamis that devastated Simeulue and extended over 950 Km Along the coast (the extent of this tsunami appears to be greater than 1861 event only because tide gauges were in use at this time). People in Nias were not able to stand. The shock was probably located seaward of the trench slope break, since islands on the seaward side of Nias and towns on the seaward side of Batu Island were devastated by the seawater. Guitenberg and Richter (1954) have assigned this event a magnitude M = 7.6. The location they report seaward of the trench by Simeulue, is inconsistent with that expected from the extent of moderate intensities in the interior Sumatra. We prefer an epicenter seaward of the trench slope break but lanward of the trench. Aftershocks were reported for 8 days. While this was an intense shock, the damage was localized.”

Deskripsi tersebut menggarisbawahi beberapa hal penting, antara lain : tanggal, bulan dan tahun kejadian;, cakupan area yang terkena tsunami, khususnya pulau Simeulue dan Pulau-pulau Batu Nias;, magnitud gempa dan tsunami yang terjadi pada saat itu dibandingkan dengan kejadian sebelumnya pada tahun 1861.

Baca Juga

APBA dan Elit Yang Tuli

Mengenang Bencana Tsunami

Memory SMONG

LGBT Bermunculan di…

Kaum Waria dan Kid Zaman Now

Artikel tersebut telah memberikan informasi tentang kejadian tsunami pada tahun 1907 yang selama ini dikenal secara lisan oleh penduduk Simeulue bahwa peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1907 dan jatuh pada hari Jumat. Beberapa keterangan lisan, khususnya di wilayah Salur, Naibos dan Kampung Aie pun menguatkan pendapat bahwa tsunami tahun 1907 terjadi pada hari Jumat, dikaitkan dengan beberapa peristiwa tentang tewasnya orang-orang di dalam mesjid pada saat sembahyang Jumat atau orang yang tewas di depan mesjid. Keterangan lisan lain menyebutkan bahwa gempa terjadi pada pagi hari, sedangkan gelombang tsunami terjadi pada siang hari, dan baru surut sekitar pukul 5 sore. Sumber : Newcomb and McCann (1997).

Selain artikel ilmiah tersebut, terdapat dua catatan lain yang dibuat oleh pihak Pemerintah Kolonial Belanda. Petikan catatan berikut antara lain berisi : Di Simeulue sering terjadi gempa bumi. Biasanya bersifat ringan. Pada tahun 1907 seluruh daerah pantai Barat dilanda ombak pasang besar. Jumlah korban sangat banyak. Sejumlah besar kampung benar-benar hilang tertelan ombak yang mengakibatkan tanah tersebut menjadi daerah gersang, sementara penduduk disana tidak pernah berhasil mengatasi bencana ini, Kemakmuran sebelumnya tidak pernah tercapai lagi. Hingga saat ini penduduk masih menyisakan kisah-kisah dari masa lampau sebelum terjadi bencana gelombang pasang, pada masa itu kampung-kampung sepanjang pantai termasuk makmur di pulau itu.

Catatan di atas pada awalnya menceritakan tentang aspek geografi pulau Simeulue pada Jaman Belanda. Namun demikian, catatan-catatan dalam tulisan tersebut dapat memberikan bukti adanya kejadian tsunami tahun 1907 yang secara signifikan berdampak pada aspek sosial ekonomi masyarakatnya. Catatan ini juga memberikan informasi bahwa penduduk masih ingat tentang kondisi sosial-ekonomi masyarakat sebelum terjadinya bencana tsunami pada tahun 1907.

Sebuah catatan singkat dari kontrolir Belanda di Simeulue memberikan deskripsi tentang suatu kampung yang disebut dengan “KAMPUNG LAMA”. Informasi singkat ini juga memberikan pengetahuan tentang adanya kejadian tsunami (“ombak pasang”) pada tahun 1907 dan mulai adanya kehidupan baru di tempat yang disebut dengan kampung lama.

Sumber-sumber tertulis maupun visualisasi mengenai kejadian gempa dan tsunami tahun 1907 yang melanda pulau Simeulue relatif masih terbatas. Hal ini berbeda dengan kejadian tsunami tahun 1833 yang pernah melanda pantai Sumatera, dimana pernah dituliskan dalam bentuk cerita oleh seorang pedagang yang kebetulan sedang berada di wilayah tersebut. Meskipun begitu, tidak tertutup kemungkinan berbagai arsip maupun pemberitaan media kolonial Belanda pada tahun 1907 dapat ditelusuri lebih jauh lagi untuk memberikan gambaran yang utuh mengenai dampak kejadian tsunami tersebut bagi penduduk pulau Simeulue.

Komentar
Sedang Loading...
Memuat