HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Gaya Hidup Hedonisme Melanda Remaja Aceh

1.248

Oleh: Muhammad Ikhsan[1]

Muhammad Ikhsan
Muhammad Ikhsan

HARIANACEH.co.id – Apa yang mendasari bahwa manusia itu ada? Rene Descrates yang dikenal sebagai seorang filsuf modern memberikan ungkapan filosofis yang menyatakan “I think therefore I am – (aku berpikir, maka aku ada)”. Ungkapan filosofis Rene Descrates yang sempat menjadi jiwa manusia pada beberapa dekade yang lalu, kini ungkapan tersebut seakan terlupakan dan hilang maknanya di telan masa. Jika pertanyaan ini ditujukan pada manusia masa kini ada kemungkinan dijawab “I shop therefore I am – (aku berbelanja, maka aku ada)”. Sehingga ungkapan inilah yang menjadi slogan populer yang mampu merefleksikan hasrat konsumsi masyarakat (Haryanto, 2008).

Karakteristik globalisasi yang menghiasi dunia ini dengan seragam, berhasil menciptakan beragam trend dalam masyarakat modern, salah satunya ialah konsumsi yang merupakan pemanfaatan nilai guna suatu barang untuk pemenuhan kebutuhan. Namun, terdapat perbedaan akibat perubahan dan perkembangan secara global yang mengubah wujud keaslian dari konsumsi. Dimana dalam dunia yang sudah seragam ini, pola konsumsi sudah menjadi sebuah trend masa kini yang diterapkan dalam gaya hidup seseorang.

Membicarakan tentang gaya hidup (life style) sulit mengidentifikasikan kelas sosial dalam masyarakat, satu sisi masyarakat yang kelas sosialnya menengah ke atas lebih cenderung dan lebih mudah terpengaruh dengan gaya hidup konsumtif, dan di sisi lainnya masyarakat kelas menengah ke bawah juga demikian, sehingga dalam hal ini masyarakat cenderung memiliki kesamaan, di samping itu juga setiap orang terus mencoba untuk mengembangkan gaya hidup yang eksklusif agar tetap tampil percaya diri.

Transformasi konsumsi ini menciptakan pola konsumsi masyarakat menjadi konsumtif, dimana konsumsi bukan lagi atas dasar pemenuhan kebutuhan melainkan pemenuhan keinginan, sehingga masyarakat dengan senang hati dan bangga mengonsumsi simbo-simbol yang melekat pada objek konsumsi.

Baudrillard (Nanang, 2012:134) menyatakan bahwa rasionalitas konsumsi masyarakat sudah jauh mengalami perubahan, karena masyarakat membeli suatu barang hanya sebagai pemenuhan hasrat (desire) bukan sebagai pemenuhan kebutuhan (needs). Kini logika konsumsi masyarakat bukan lagi berdasarkan “use value” atau “exchange value” melainkan hadir nilai baru yang disebut “symbolic value”. Maksudnya, orang tidak lagi mengkonsumsi objek berdasarkan nilai tukar atau nilai guna, melainkan karena nilai tanda / simbolis yang sifatnya abstrak dan terkonstruksi.

Baca Juga

Balap Liar

Irwandi dan Kejayaan Hutan Aceh

Gaya hidup yang di dukung oleh perkembangan zaman dan teknologi telah merubah pola pikir masyarakat mengenai masalah konsumsi terutama yang tinggal di perkotaan, hal ini disebabkan karena mereka langsung terkena dampak dari informasi dan teknologi. Gaya hidup yang berkembang sekarang seperti makanan cepat saji (fast food), nongkrong di kafe mewah, pemakaian aksesoris bermerek dan jalan-jalan di mall sudah menjadi bagian dari gaya hidup remaja. Gaya hidup seperti ini disebut dengan gaya hidup konsumtif, kondisi seperti ini hampir melanda semua kalangan dan generasi dalam masyarakat, salah satunya ialah kalangan remaja yang ada di Aceh.

Fenomena dari remaja sekarang tercermin dari cara berpakaian dan bernampilan modis yang terkadang terlihat berlebihan untuk dirinya sendiri, juga terlihat aktif di kafe dengan nuansa mewah, sehingga mereka cenderung berperilaku konsumtif. Perilaku konsumtif merupakan perilaku di mana tidak ada lagi pertimbangan rasional, artinya menggunakan barang bukan karena kebutuhan, akan tetapi karena simbol yang melekat pada barang tersebut.

Perilaku konsumtif yang melanda remaja kita pada hari ini, sungguh sangat memprihatinkan, mengingat remaja ini sebagai penerus generasi bangsa yang akan meningkatkan nilai-nilai produktivitas guna menjadikan negeri ini lebih baik di masa mendatang. Hal ini akan berbalik jika perilaku konsumtif ini akan menjiwai para remaja. Bahkan sebagian para remaja kita sudah terhanyut dalam gaya hidup yang bermewah-mewahan hanya untuk kesenangan semata. Istilah seperti ini dikenal dengan “hedonisme”. Istilah hedonisme ini merupakan suatu pandangan yang menganggap bahwa kemewahan material dan berburu kesenangan dalam kehidupan merupakan tujuan utama dalam hidup.

Penulis sendiri memandang hedonisme ini sebagai penyakit yang dijuluki sebagai hantu masa kini yang sangat ditakuti di dalam kehidupan nyata, kenapa demikian? karena, gaya hidup hedonis yang terus di buru oleh para remaja, akan berefek buruk terhadap kehidupan sosial, budaya, agama dan politik. Dimana para remaja pada umumnya belum memiliki pekerjaan, bahkan pendapatannya hanya bersumber dari orang tua. Bagaimana ketika mereka dilanda kecanduan terhadap gaya hidup tersebut, kemungkinan akan terjadinya berbagai kesenjangan dalam kehidupan sosial masyarakat, dan bahkan akan melakukan perbuatan menyimpang guna memenuhi hasratnya untuk mengonsumsi simbol-simbol kemewahan pada suatu barang. Selain itu akan menimbulkan kesenjangan budaya dalam masyarakat kita (Aceh).

Sebagaimana kita ketahui bahwa Aceh memiliki nilai kekayaan dalam ranah budaya, namun pada hari ini, kekayaan budaya yang kita miliki semakin memudar, bahkan bahasa Aceh sendiri sudah sangat jarang kita dengarkan di dalam percakapan antar remaja, khususnya di ruang lingkup perkotaan. Disamping itu, efek lainnya dari hantu masa kini, akan menciptakan generasi yang konsumtif di masa mendatang. Ketika generasi kedepan dipenuhi dengan para penikmat kemewahan dan kesenangan, maka negeri ini akan di landa kehancuran dalam mewariskan nilai-nilai produktivitas, pada hari ini saja sangat jarang ditemukan para remaja kita yang mencintai dan bangga menggunakan produk dalam negeri.

Gaya hidup bermewah-mewahan pada hari ini sudah mulai terlihat wujudnya dari kalangan remaja Aceh. Bahkan hal ini sempat menghebohkan pengguna media sosial BBM, dimana ketika penulis membuka aplikasi BBM pada hari itu, rata-rata status yang muncul dipenuhi dengan pesta miras remaja Aceh di salah satu hotel berbintang lima di wilayah yang dijuluki dengan Serambi Mekkah ini. Lebih lanjut inilah sebagian kutipan yang dikutip dari media cetak Serambi pada kamis lalu “Sebanyak 20 orang ABG yang terdiri atas perempuan dan laki laki ditangkap oleh Personel WH Banda Aceh, Kamis (17/12/2015) dini hari, sekitar pukul 02.30 WIB di dalam kamar Hotel Hermes Palace, Banda Aceh.”.

Gaya hidup hedonis yang sudah mulai menjangkiti remaja Aceh ini, akan menjadi masalah yang besar yang harus diselesaikan, karena lama-kelamaan akan mewabah dan menular layaknya virus yang berbahaya. Ini menjadi sebuah tantangan bagi kita semua untuk menyelesaikan masalah ini. Kita tidak dapat meremehkan hal-hal semacam ini, karena suatu masalah dapat menjadi besar karena sesuatu yang kecil.[]


CATATAN KAKI:
  1. Mahasiswa Sosiologi FISIP Unsyiah
loading...