HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Wartawan Profesional Berbudaya Dengan Etika

15

Oleh: Aziz [1]

HARIANACEH.co.id – Wartawan mengasyikkan apabila dipayungi oleh etika. Etika sama juga dengan kata moral, kelakuan, watak, akhlak, dan cara hidup. Kata tersebut tidak boleh lepas dari genggaman seorang wartawan dikarenakan sistem nilai pribadi yang digunakan untuk memutuskan apa yang konsisten dalam organisasi dan diri pribadi yang harus dibudayakan oleh wartawan.

Di era sekarang banyak wartawan yang menukar kode etik dengan sebuah bingkisan bernama amplop, itu bukanlah hal yang dibudayakan oleh sang wartawan yang berkarakter profesional. Tetapi ada juga kegiatan hal buruk tersebut yang dipraktekkan oleh beberapa oknum yang mementingkan kepentingan pribadi untuk mendapatkan keuntuntungan.

Adanya permainan penerimaan amplop terhadap wartawan tersebut lahir disebabkan banyaknya wartawan setelah pasca reformasi, gaji minim yang disisipkan oleh pihak media untuk membayar keringat sang pencari berita serta pengontrolan kebebasan pers yang terbengkalai maka terjadilah praktek penerimaan amplop tidak dapat tergelakkan lagi.

Apabila profesi itu ingin dikenal dengan sebutan profesional maka tidak berhenti dan terus menerus memberi pencerahan kepada masyarakat. Olehnya itu, ia harus menjadikan medianya sebagai tempat masyarakat mendapatkan kuliah kehidupan, berupa berita dan informasi yang aktual sehingga dapat meningkatkan kualitas dan harkat martabat kemanusiaan. Maka seorang wartawan haruslah membawa misi mencerahkan masyarakat dan senantiasa membimbingnya agar semakin rasional dan bermoral.

Agar suatu rencana tersebut dapat tercapai dengan baik dan benar, maka sudah tentu seorang wartawan harus memiliki bekal yang sifatnya ekonomi. Dalam kutipan Wall Street Journal di salah satu tajuknya, menuliskan bahwa; “Kita akan terpaksa membunuh etika sebelum etika membunuh kita.’’ Sekaitan dengan problem etika tersebut, Ketua Dewan Pers Bagir Manan menyatakan, bahwa dari sejumlah aduan masyarakat terkait dengan kasus pers, terdapat sekitar 80 % merupakan pelanggaran kode etik pers.

Kerja wartawan sebagai profesi yang memerlukan panduan dengan balutan warna seni. Yaitu seni saat mencari, menulis, dan saat transformasi atau penyajian saat penyampaiannya, sehinnga khalayak penerimaannya menikmati keindahan sajiannya. Dengan demikian, hasil karya jurnalistik seorang wartawan tidak hanya membuka wawasan rasio tetapi juga menyentuh perasaan terhalus siapa saja yang menyajikannya.

Dalam hal tersebut wartawan profesional mengetahui dan memahami tugasnya yang memiliki keterampilan untuk melakukan reportase dan mengolah karya-karya jurnalistik sesuai dengan nilai yang berlaku, juga mempunyai prisip yang baik dan tahu kapan, dimana mencari berita, siapa yang akan diwawancarai pertanyaan seperti apa yang mesti ditanyakan, bagaimana mengajukannya, dan bagaimana memverifikasi hasilnya.

Baca Juga

Oleh karena itu untuk menjadi wartawan profesional, seorang wartawan harus membekali dirinya dengan naluri berita, observasi, keingintahuan, mengenal berita, menagani berita, ungkapan yang jelas, kepribadian yang jelas, sehingga publik sebagai konsumen berita akan merasa puas terhadap kenerja sang jurnalis.

Sebutan ini boleh dikatakan sebuah profesi bagi pemburu berita, atau biasa juga disebut sebagai juru warta, pembawa berita, komunikator massa, pembela kepentingan rakyat. Dari segi inilah wartawan merupakan orang yang pekerjaannya mencari berita, berita-berita tersebut diaduk dan disusun dengan rangkain kata informasi yang dikutip untuk dikirim ke bundaran meja redaksi yang nantinya dipublikasikan kepada khalayak.

Irama harus diringi dengan panduan dan jalur petunjuk, dengan kata lain kode etik wartawan Indonesia jauh yang dinamakan dari kata istilah makan minum dalam pertemuan pers atau amplop disaat hendak berpulang sebelum berita ditransformasi ke redaksi. Wartawan bukan pemeras, bukan pengemis uang, dan bukan juga seorang calo. Wartawan suatu profesi mulia yang menyiarkan berita semata untuk kebutuhan publik, bukan karena adanya imbalan dari pihak tertentu.

Lakab profesional seorang wartawan yaitu harus tunduk berpihak pada fakta dan data, bukan bercondong pada orang atau lembaga tertentu yang memiliki hubungan kekerabatan dengan sang wartawan, misalnya pemilik modal tempat ia bekerja. Wartawan tidak boleh sekali-kali menjadi “penyambung lidah” narasumber semata, tanpa mempunyai data, fakta, dan vadilitas informasi yang benar. Indepedensi itu harus dimilik wartawan karena kualitas berita dan informasi yang disajikan haruslah menjadi simbol agar wartawan tersebut dihargai dan dipercaya.

Masa-masa sekarang tidak mudahlah bagi wartawan untuk menemukan lakab profesional dikarenakan banyak pejabat yang mengandengkan dirinya dengan wartawan, gunanya untuk bisa bebas mengotrol dalam permainan kenerja dalam dinas dan pencitraan terhadap dirinya.

Target utama para calon politsi disaat pemilukada hendak berlangsung yaitu merekrut wartawan yang tidak profesional yang bisa dilapisi dengan uang saku gunanya untuk komunikator dalam menghipnotis publik terhadap infoermasi, promosi, pencitraan, dan propaganda. Yang diaharapkan oleh para kader politik untuk bisa memuluskan jalannya dalam merebut tahta kursi kekuasaan.

Maka dengan keadaan seperti itu pandai-pandailah sang wartawan dalam menjaga diri untuk mempertahankan simbolis profesional, karena masa pemilukada adalah masa rayuan manis yang dilontarkan oleh oknum calon politisi gila terhadap kekuasaan, hanya semata memanfaatkan wartawan tersebut untuk menginformasikan calon tersebut layak dipilih dalam pemilukada berlangsung.[]


CATATAN KAKI:
  1. Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Komunikasi Univesitas Malikussaleh
loading...
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time