HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Antara Realitas dan Kepalsuan Media Dalam Berpolitik

6

Oleh: Rusda[1]

Rusda
Rusda

HARIANACEH.co.id – Seperti yang kita ketahui banyak politikus yang menggunakan media sebagai langkah utama untuk meraih kemenangan dalam pemilihan umum atau pemilihan lainnya. Kenapa harus media? Karena ada tiga alasan yang membuat media itu menjadi pilihan politik, yaitu pertama, media memiliki powerfull effect untuk dapat mempengaruhi opini publik. Kedua, pesan media bersifat umum, yaitu semua kalangan masyarakat dapat mengetahui berita yang ditampilkan di media tersebut. Ketiga, dalam demokrasi modern, kampanye politik melalui media merupakan cara primer, di mana para politikus akan melakukan promosi terhadap produk-produk politik yang akan dipasarkannya.

Ada dua kepentingan utama media, yaitu ekonomi dan politik. Dari segi ekonomi, banyak kita lihat media-media selalu menayangkan berita atau acara-acara yang menarik perhatian banyak orang, agar media itu dapat meraih rating yang tinggi dan bisa mendapatkan uang yang banyak, melalui iklan yang akan dipromosikan di dalam berita atau acara tersebut. Semakin banyak iklan yang ditampilkan maka semakin banyak pula uang mereka. Sedangkan dari segi politiknya, media sering menampilkan berita yang baik-baik mengenai partai atau seseorang agar berhasil dalam pemilu. Ada juga media yang berlomba-lomba menayangkan berita agar tidak kalah dari media lain, itu semata-mata hanya untuk mendapat rating tinggi. Misalnya ada musibah banjir yang melanda suatu daerah, untuk mendapatkan rating tinggi media ini pun melakukan kecurangan yaitu dengan berlutut di dalam air agar banjir terlihat dalam dan dapat menarik perhatian banyak orang. Kedua kepentingan itu membuat mereka lupa akan kepentingan masyarakat yaitu kepetingan yang bermanfaat bagi masyarakatnya. Misalnya pengetahuan yang dapat membuat masyarakatnya lebih pintar.

Seperti yang dikatakan oleh filosof, Juergen Habermas, media dalam sistem yang demokratis semestinya berfungsi sebagai arena ruang publik. Ruang publik merupakan wilayah di mana seluruh anggota masyarakat dapat berinteraksi, bertukar pikiran, dan berdebat tentang masalah-masalah publik, tanpa perlu merisaukan intervensi penguasa politik dan/atau ekonomi (Sudibyo, 2004:70).

Baca Juga

Media utama yang menjadi pilihan politikus adalah televisi, karena sebagian besar masyarakat Indonesia masih menonton televisi, khususnya kalangan-kalangan lansia yang tidak bisa membaca dan menggunakan media baru seperti internet. Televisi juga merupakan media audiovisual yang tidak menuntut kita untuk membaca tetapi dapat juga dengan mendengarkannya saja. Pemimpin partai-partai di Indonesia juga ada yang merupakan pemilik dari saluran televisi itu sendiri, yang biasanya banyak menayangkan berita tentang partainya itu dengan berita-berita yang baik sehingga publik dapat beranggapan bahwa partai itu layak dipilih. Tetapi jika saluran televisi itu pemiliknya dari partai lain, maka dia akan memberitakan yang buruk-buruk mengenai partai itu.

Realitas dan Kepalsuan dalam berpolitik itu juga dapat disamakan dengan Hiper-Realitas. Istilah hiper-realitas pertama kali digunakan oleh Jean Baudrillard, seorang sosiolog Prancis, dalam bukunya In the Shadow of the Silent Majorities (1983), untuk menjelaskan perekayasaan dalam pengertian distorsi makna didalam media. Yasraf Amir Pilliang juga berpendapat bahwa hiper-realitas itu tampil seperti realitas yang sesungguhnya, padahal ia adalah realitas artifisial, yaitu realitas yang diciptakan lewat teknologi simulasi. Sehingga bagi orang yang melihatnya terutama orang awam, mempercayai itu adalah kenyataan atau realitas.

Menciptakan sebuah kondisi yang terlihat lebih nyata padahal hanya kebohongan belaka, tetapi lebih dipercaya dibandingkan dengan informasi yang sebenarnya. Dalam keadaan hiper-realitas ini, kita tidak menyadari lagi bahwa apa yang kita lihat sebagai suatu kenyataan itu merupakan rekayasa realitas. Misalnya seorang pemimpin yang korupsi, ada pegawainya yang melihat secara langsung pemimpin itu korupsi, lalu ia menceritakan kepada temannya, tetapi temannya ini tidak percaya karena dia baru melihat berita di televisi yang mengabarkan bahwa pemimpinnya itu suka menolong orang miskin. Dan itu membuat kita membayangkan, dia seseorang yang dermawan, tetapi itu tidak akan bertahan lama karena kita tahu sebagus apapun mereka menyembunyikan bangkai itu pasti akan tercium juga nantinya.

Sekarang banyak kita temukan media yang seperti itu, yang jahat jadi baik, yang baik jadi jahat. Itu semua karena uang, kalau banyak uang kita dapat melakukan semua yang kita inginkan, tanpa memikirkan orang lain. Misalnya seperti pencuri sandal jepit yang harganya cuma Rp.50.000 di penjara sampai 5 tahun, tapi koruptor yang mencuri uang rakyat milyaran bahkan triliunan dipenjara cuman 1,5 tahun. Kenapa pencuri sandal jepit itu lebih lama di penjara? Karena tidak memiliki uang, jawaban yang sangat sederhana. Tidak adil bukan? Begitulah kehidupan yang kita jalankan sekarang. Bagaimana negara ini bisa maju kalau para politikus menguasai media dengan hal-hal yang buruk. Media juga tidak menjalankan fungsinya lagi dengan benar.

Semoga generasi kedepan dapat merubah fungsi media yang kacau seperti ini ke fungsi media yang sebenarnya.


CATATAN KAKI:
  1. Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh Lhokseumawe.
loading...