HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Vladimir Putin Sebut AS Adalah Ancaman Bagi Rusia

4

HARIANACEH.co.id – Sebuah dokumen kenegaraan Rusia memasukkan nama Amerika Serikat (AS) sebagai salah satu ancaman bagi keamanan nasional. Ini merupakan salah satu pertanda semakin memburuknya hubungan kedua negara dalam beberapa tahun terakhir.

Dokumen tersebut, berjudul “Strategi Keamanan Nasional Federasi Rusia,” telah ditandatangani Presiden Vladimir Putin pada penghujung 2015. Dokumen ini menggantikan versi 2009, yang ketika itu ditandatangani Presiden Dmitry Medvedev, yang kini menjabat Perdana Menteri.

Dalam dokumen 2009, Medvedev tidak memasukkan nama AS maupun NATO sebagai ancaman bagi Rusia.

Versi terbaru menyebutkan Rusia telah berhasil meningkatkan perannya dalam mengatasi serangkaian masalah global dan konflik internasional. Peningkatan peran ini disebut Rusia telah memicu reaksi negara Barat.

“Menguatnya Rusia terjadi di balik adanya ancaman baru bagi keamanan nasional, yang bersifat kompleks dan saling berhubungan,” tulis dokumen itu, seperti dikutip Reuters, Sabtu (2/1/2016).

“Dengan menerapkan kebijakan independen, baik di kancah internasional dan domestik, telah memicu reaksi dari AS dan sekutunya, yang terus berusaha menjaga dominasi mereka atas masaah global,” lanjut dokumen itu.

“Hal tersebut kemungkinan dapat merujuk pada tekanan terhadap sektor politik, ekonomi, militer dan informasi Rusia,” sambungnya.

Hubungan Rusia dan negara Barat mencapai titik terendah setelah pasukan Rusia menganeksasi Krimea dari Ukraina pada Maret 2014. Aneksasi terjadi setelah unjuk rasa di Ukraina yang memaksa presiden saat itu melarikan diri ke Rusia.

Sejak saat itu, Barat menuding Rusia membantu pemberontak di wilayah timur Ukraina. Moskow membantahnya.

AS dan Uni Eropa menjatuhkan serangkaian sanksi terhadap Rusia atas aneksasi Krimea. Moskow membalas dengan melarang impor makanan dan barang lainnya dari Uni Eropa.

Dokumen terbaru Rusia juga menyebutkan AS dan Uni Eropa mendukung “kudeta anti-konstitusi di Ukraina,” yang berujung pada terpecahnya masyarakat Ukraina dan memicu konflik militer.

Ancaman lainnya yang disebutkan dalam dokumen Rusia adalah perluasan militer NATO dan jaringan laboratorium biologi milik AS di beberapa negara tetangga Rusia.

Suriah tidak disebutkan dalam dokumen terbaru. Pada 30 September, Rusia memulai serangan udara di Suriah untuk melawan kelompok militan Islamic State (ISIS) dan grup teroris lainnya. Negara Barat menuding Rusia hanya ingin menyerang pemberontak Suriah, bukan ISIS.

loading...
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time