HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Rental Film Fisik Sampai Digital, Itulah Kisah Awal Mula Netflix

37

HARIANACEH.co.id – Beberapa tahun belakangan, industri televisi mulai berubah. Masyarakat tidak lagi puas dengan siaran yang diberikan oleh berbagai stasiun TV yang ada. Hal inilah yang mendorong munculnya TV kabel.

Keberadaan TV kabel membuat pemasukan stasiun TV berkurang. Meskipun begitu, mereka berhasil mendapatkan kompensasi dari uang yang hilang dengan cara meminta pihak TV kabel untuk membayar kepada mereka untuk konten milik mereka yang disiarkan oleh TV kabel.

Memasuki era internet, industri TV mendapatkan pesaing baru berupa layananvideo streaming. Netflix didirikan pada tahun 1997 oleh Reed Hastings bersama dengan Marc Randolph. Mulai tahun 2007, mereka memberikan layanan streamingfilm dan serial TV ke komputer. Saat mendirikan Netflix, Hastings berusaha untuk menggabungkan 2 teknologi yang ketika itu masih baru, yaitu DVD dan keberadaan situs pemesanan DVD.

Di tahun 2000, Netflix tidak lebih dari sekedar layanan persewaan film. Sistem yang digunakan oleh Netflix adalah dengan meminta biaya berlangganan setiap bulannya, dan para pelanggan bebas untuk menyewa DVD tanpa batasan jumlah dan waktu.

Ketika itu, Netflix hanya memiliki 300.000 pelanggan, dan masih menggantungkan diri pada layanan pos untuk mengirimkan DVD yang hendak disewa. Hastings lalu terbang ke Dallas untuk menemui pihak Blockbuster, yang ketika itu, merupakan raksasa persewaan film dengan 7.700 toko di seluruh dunia. Dia ingin mengajak Blockbuster untuk bekerja sama dengan Netflix.

“Kami bahkan menawarkan untuk menjual 49 persen saham kami dan mengganti nama kami menjadi Blockbuster.com,” kata Hastings kepada Ken Auletta dari New Yorker. “Kami hendak menjadi layanan online mereka.” Tetapi, ketika itu Blockbuster tidak tertarik. Mereka belum melihat adanya ancaman dari media digital.

Reed Hastings, Co-Founder dan CEO Netflix

Blockbuster baru menyadari bahaya media digital di tahun 2004. Mereka lalu membuat layanan berlangganan online milik mereka sendiri. Sayangnya, mereka sudah terlambat. “Jika mereka meluncurkan layanan ini dua tahun sebelumnya, kami pasti akan kalah,” kata Hastings.

Di tahun 2005, Netflix telah memiliki 4,2 juta pelanggan, dan angka ini terus bertambah. Saat itu, studio di Hollywood mulai menawarkan film mereka untuk disewakan oleh Netflix. Keberadaan Netflix berhasil menjadi sumber penghasilan lain bagi mereka. Selain itu, dengan adanya Netflix, mereka tidak lagi bergantung sepenuhnya pada Blockbuster.

Netflix mulai menyiarkan film dan serial TV secara streaming langsung ke PC di tahun 2007. Di bulan November 2013, Blockbuster bangkrut. Sementara sebulan sebelumnya, Netflix mengumumkan bahwa mereka telah memiliki pelanggan 31 juta orang.

Salah satu kunci kesuksesan Hastings adalah karena dia sadar bahwa ada ketidakpuasan pada pelanggan saat menonton siaran TV tradisional. Ketidakpuasan tersebut adalah keberadaan iklan.

Netflix tidak memiliki iklan. Sumber pendapatan mereka murni datang dari biaya berlangganan pelanggan mereka. Dengan membayar sejumlah uang, masyarakat dapat menonton film atau serial TV yang mereka inginkan, tanpa harus mengikuti jadwal dari stasiun TV, pada gadget apapun yang mereka miliki, tanpa harus menonton iklan.

“Dengan layanan kami, Anda dapat mengendalikan apa yang ingin Anda tonton. Ia seperti buku. Anda dapat membaca seluruh cerita yang ada dalam buku dalam satu waktu, karena Anda sudah memiliki semua episode yang ada,” kata Hastings.

EC1_2342

Di musim semi 2011, Netflix mengumumkan bahwa mereka akan mulai membuat konten sendiri. Tanpa ragu, Netflix menghabiskan USD100 juta untuk membuat dua season, 26 episode dari House of Cards, yang disutradarai oleh David Fincher dan dibintangi oleh Kevin Spacey. House of Cards diluncurkan di tahun 2013 dan dengan cepat menjadi populer.

Dalam acara Guardian Edinburgh International Television Festival tahun 2013, Space berkata, “Netflix adalah satu-satunya perusahan yang berkata, ‘Kami percaya pada kalian. Kami telah melakukan analisis data dan analisis tersebut menunjukkan bahwa pelanggan kami akan menyukai serial TV ini. Kalian tidak perlu membuat episode pilot. Berapa banyak episode yang ingin kalian buat?”

Netflix memiliki engine yang dapat memantau preferensi film seseorang. Pada dasarnya, engine ini berfungsi agar Netflix dapat menawarkan film lain yang akan disukai oleh seseorang berdasarkan pada film dan serial TV yang telah dia tonton sebelumnya.

Selain itu, engine milik Netflix ini juga dapat melacak kebiasaan pelanggannya, seperti seberapa cepat seseorang menonton setiap episode dari sebuah serial TV dan berapa banyak episode yang bisa mereka tonton dalam satu kesempatan.

Data miliki Netflix menunjukkan bahwa para pelanggan mereka akan menyukai House of Cards. Hal ini terbukti benar.

EC1_2226

Saat ini, satu hal yang belum dapat Netflix berikan adalah acara yang mengharuskan pelanggannya untuk menonton sebuah acara pada waktu tertentu, seperti acara Olimpiade, Oscar, atau bahkan acara seperti American Idol.

Dalam acara CES 2016, Hastings mengumumkan, pada kuartal empat, sebanyak 12 miliar jam dihabiskan untuk menonton Netflix. Dalam kesempatan tersebut, dia juga mengumumkan rencana Netflix untuk memperluas jangkauan mereka ke 130 negara, salah satunya Indonesia.

Komentar
Sedang Loading...
Memuat