HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Urgensi Penghentian Kasus Novel Dipertanyakan Jaksa Agung

4

HARIANACEH.co.id – Kasus dugaan penganiayaan yang menjerat Penyidik KPK Novel Baswedan segera disidangkan di Pengadilan Negeri Bengkulu. Banyak permintaan supaya Jaksa Agung menghentikan kasus itu.

Jaksa Agung M Prasetyo belum mau memutuskan kasus itu bakal dihentikan. Dia takut, banyak pihak mempertanyakan urgensi kasus itu dihentikan.

“Ini kan sudah muara (di pengadilan), alasannya apa (dihentikan)?” kata Prasetyo di Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Selasa (2/2/2016).

Prasetyo mengatakan, bila penghentian kasus lantaran untuk kepentingan umum, dia masih belum puas. “Apa kepentingan umumnya?,” kata Prasetyo.

Kasus dugaan penganiayaan yang menjerat Penyidik KPK Novel Baswedan telah dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Bengkulu. Novel pun dipastikan segera didakwa.

“Tadi sore Kajari Bengkulu datang ke KPK, mengantarkan surat pelimpahan perkara dan surat dakwaan,” kata pengacara Novel, Muji Kartika Rahayu, dalam pesan singkat, Jumat 29 Januari.

Menurut dia, kliennya telah menerima surat dakwaan yang disusun oleh pihak Kejaksaan Negeri Bengkulu. Surat dakwaan tersebut diserahkan langsung kepada Novel di KPK.

Sementara, Kepala Kejaksaan Negeri Bengkulu Made Sudarmawan juga membenarkan berkas perkara Novel telah masuk ke pengadilan. “Iya betul, tadi siang, sudah dilimpahkan ke pengadilan,” kata Made.

Kendati demikian, Made menerangkan belum ada penetapan jadwal sidang dari pengadilan. “Ya belum lah, kan baru tadi siang dilimpahkannya,” ujar dia.

Novel disangka melakukan tindak pidana penganiayaan yang mengakibatkan luka berat seseorang di Pantai Panjang Ujung, Kota Bengkulu. Kasus itu dilaporkan pada 18 Februari 2004 oleh Brigadir (Pol) Yogi Haryanto.

Dia dituduh melakukan penembakan terhadap enam pelaku pencurian sarang burung walet di Bengkulu pada 2004. Penembakan yang dilakukan oleh anak buah Novel itu diduga mengakibatkan kematian seorang pelaku bernama Mulia Johani, alias Aan.

Novel yang saat itu menjabat Kasat Reskrim Polres Bengkulu dianggap bertanggung jawab atas penembakan tersebut. Akhirnya, Novel menjalani pemeriksaan kode etik di Mapolres Bengkulu dan Polda Bengkulu.

Sanksi teguran dijatuhkan sebagai pelanggaran kode etik atas perbuatan anak buahnya. Namun, setelah insiden itu, Novel masih dipercaya sebagai Kasat Reskrim di Polres Bengkulu hingga Oktober 2005.

Kasus ini meledak ketika dia selaku penyidik KPK mendalami Irjen Djoko Susilo yang ditetapkan sebagai tersangka kasus simulator SIM. Kepolisian bahkan sempat berupaya menangkapnya pada 2012 saat berada di gedung KPK namun batal.

Sempat mereda, kasus itu kembali berhembus ketika KPK berseteru dengan kepolisian di 2015. Novel sempat ditangkap pada Jumat 1 Mei dini hari di kediamannya di Kelapa Gading, Jakarta Utara, karena dinilai tidak memenuhi panggilan pertama dan kedua polisi.

Menghadapi perkara ini, Novel pernah mengajukan gugatan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Namun, permohonannya ditolak hakim yang menganggap sah penangkapan dan penahanan terhadap Novel.

loading...
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time