HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Edi Darmawan: “Jessica Punya Kepribadian Ganda”

1

HARIANACEH.co.id – Edi Darmawan Salihin, ayah Wayan Mirna Salihin, menuding Jessica Kumala Wongso sebagai orang yang mengidap penyakit kejiwaan. Penyakit yang dimaksud adalah kepribadian ganda.

Tudingan disampaikan Darmawan dalam program Indonesia Lawyer Club, Selasa, 2 Februari. “Jessica saya sampaikan punya kepribadian ganda. Lie detector pun kalau dia keluar dari sisi gelapnya itu dia bisa lempeng (tak terbaca),” kata Darmawan.

Tak hanya soal kepribadian ganda, Darmawan pun menuding, Jessica punya kelainan seksual. Hal itu ditemukan Darmawan dari percakapan di aplikasi pesan singkat WhatsApp.

Percakapan pun terungkap jelas dalam sebuah kalimat. “Mir, mau dong gue dicium sama elo, udah lama nih,” ucap Darmawan menirukan isi percakapan Jessica dan Mirna.

Tudingan Darmawan memang perlu dibuktikan lebih lanjut. Bukan tak mungkin, tudingan sekadar pernyataan asal.

Tudingan ‘kepribadian ganda’ menyiratkan pertanyaan, mungkinkah hukum bisa menjerat pengidap penyakit jiwa?

Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia Sarlito Wirawan Sarwono menuturkan, sanksi hukum hanya bisa dilepaskan dari pengidap skizofrenia. Musababnya, pengidap skizofrenia tak bisa membedakan kenyataan dan khayalan.

“Pengidap skizofrenia tak bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri,” kata Sarlito, Rabu (3/2/2016) malam.

Skizofrenia dipahami sebagai gangguan jiwa yang membuat penderita mengalami perpecahan jiwa lantaran adanya keretakan antara proses berpikir, perasaan, dan perbuatan. Menurut Sarlito, tak mudah memberi label tersebut kepada sesiapa pun yang diduga mengidap.

Terlebih, buat pelaku kejahatan. Lelaki 72 tahun itu menyebut, ada mekanisme untuk menyatakan seorang pelaku kejahatan mengidap skizofrenia. Harus ada visum dari dokter.

“Polisi meminta pendapat dari psikolog, kemudian saat psikolog menemukan simptom, psikolog harus berkonsultasi dengan psikiater atau dokter kejiwaan. Dokterlah yang punya hak mengeluarkan visum,” jelas Sarlito.

Lantas bagaimana dengan pengidap penyakit kejiwaan selain skizofrenia?

Sarlito menyebut, semua penyakit kejiwaan selain skizofrenia bisa dijerat. Sebab, pengidap penyakit selain skizofrenia masih mungkin bisa membedakan alam sadar dan tidak sadar. “Psikopat saja bisa dijerat,” jelas Sarlito.

Tudingan soal penyakit kejiwaan ini memang masih perlu pembuktian. Hukum pidana mungkin bukan solusi tunggal. Ada solusi lain buat pengidap penyakit jiwa.

Bagus Takwin, pengajar Psikologi Kepribadian di Fakultas Psikologi UI memberi masukan, treatment psikologis dibutuhkan buat siapapun pelaku kejahatan yang juga pengidap penyakit kejiwaan. Ia menilai, mereka tak hanya harus dihukum.

“Mustinya disuruh rehab. Treatment di rumah sakit jiwa. Bukan berarti hanya disalahkan, tapi harus disembuhkan,” ujar lelaki yang akrab disapa Aten ini.

Lepas dari polemik Jessica berkepribadian ganda, kasus ini jelas kasus hukum. Bukan desas-desus di layar kaca. Polisi tentu lebih tahu dan bijaksana, harus ke mana pembunuh Mirna dibawa.

loading...