HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Nelayan Yunani Ini Jadi Kandidat Peraih Nobel Perdamaian

1

HARIANACEH.co.id – Seorang nenek asal Yunani menyita perhatian media, setelah dia dan dua temannya memberi susu kepada seorang bayi Suriah tahun lalu. Mereka pun dikabarkan menjadi nominator peraih Nobel Perdamaian.

Emilia Kamvisi menjadi salah satu dari tiga orang yang dinominasikan meraih Nobel Perdamaian. Mereka dianggap mewakili sikap dan perilaku warga Yunani dan rela untuk memberikan bantuan kepada pengungsi yang berbondong-bondong masuk ke negaranya.

Nominasi juga diberikan kepada Stratis Valiamos yang menyelamatkan pengungsi dari insiden tenggelam di laut. Selain itu, nominasi juga diberikan kepada aktris Hollywood Susan Sarandon yang menghabiskan perayaan Natal dengan membantu pengungsi di Yunani.

Ribuan orang bisa menominasikan sosok yang dianggap pantas untuk menerima penghargaan ini. The Norwegian Nobel Institute sendiri tidak mengumumkan nominatornya, tetapi ada perkiraan bahwa pembocor dokumen rahasia Amerika Serikat (AS) Edward Snowden masuk dalam nominasi itu.

Bagi Kamvisi, nominasi itu tidak pernah terbesit dalam pikirannya. Perempuan yang juga putri seorang pengungsi di era pendudukan Nazi di Eropa mengingatkan hidupnya di masa Perang Dunia II.

“Kami melihat orang menangis di kapal, mereka meninggalkan rumah ataupun pada akhirnya tidur di pinggiran jalan,” ujar Kamvisi, seperti dikutip Reuters, Kamis (4/2/2016).

Yunani menjadi incaran para pengungsi yang sebagian besar dari Suriah. Mereka menyeberang dari Turki untuk masuk ke Yunani dan pada akhirnya masuk ke negara Eropa lain seperti Jerman dan Austria.

Valiamos yang berprofesi sebagai nelayan menyadai sulitnya melihat kondisi pada pengungsi di tengah laut dan terombang-ambing oleh ombak.

“Banyak yang mengatakan saya pahlawan. Tetapi ini bukan mengenai kepahlawanan, tetapi adalah tindakan normal,” ungkapnya.

“Ketika Anda sedang mencari ikan dan ada perahu di samping Anda dan meminta pertolongan, Anda tidak bisa pura-pura tidak mendengar mereka,” tegas nelayan berusia 40 tahun itu.

Sama seperti Kamvisi, Valiamos melihat para pengungsi ini meninggalkan rumah mereka dan anaknya untuk pergi ke tempat baru. “Mereka pun menempuh perjalanan selama lima bulan dan menumpang perahu plastik,” tuturnya.

Di mata Valiamos, kenakatan dari para pengungsi ini tak kurang justru menimbulkan bencana. Pada akhirnya nyawa pun menjadi taruhan dan banyak dari para pengungsi yang tewas.

loading...