HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Deodoran Membahayakan Kesehatan, Benarkah Itu?

1

HARIANACEH.co.id – Kebanyakan orang tak percaya diri jika keluar rumah tanpa menggunakan deodoran. Apalagi, jika aktivitas yang dilakukan cukup padat dan menimbulkan banyak keringat.

Kosmetik penghilang bau badan ini pun menjadi barang wajib yang harus dimiliki setiap orang.

Namun, fungsi deodoran yang begitu besar seolah bertolak belakang dengan hasil penelitian yang belum lama ini dirilis. Berdasarkan studi, menggunakan deodoran ternyata dapat membunuh bakteri baik yang ada di kulit ketiak.

Untuk membuktikan, para peneliti menganalisis bakteri normal yang tumbuh di kulit ketiak 18 orang responden pria dan wanita. Dalam penelitian ini, peneliti membagi responden dalam tiga kelompok.

Hasilnya, ditemukan bakteri baik non-patogenik di ketiak responden yang tidak menggunakan deodoran. Sementara, kelompok yang secara teratur menggunakan deodoran antiperspirant (mengandung produk aluminium), hanya memiliki sedikit bakteri di ketiak mereka.

Lantas, apakah jumlah bakteri, khususnya di ketiak, memiliki dampak terhadap kesehatan secara keseluruhan?

Jawabannya, Ya.

Mikrobiota, seperti bakteri dan jamur yang hidup di dalam tubuh memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan. Dengan kata lain, menggunakan deodoran sama saja mengganggu kehidupan mikrobiota yang berfungi sebagai pertahanan alami tubuh.

Meski demikian, peneliti belum dapat memastikan, apakah menggunakan deodoran bisa memicu penyakit berbahaya atau tidak. Namun, rumor belum lama ini mengatakan, deodoran memicu kanker payudara.

Hal tersebut langsung dibantah Grete Brauten-Smith, perawat kesehatan dari Breast Cancer Care.

“Tidak ada bukti konklusif bahwa deodoran dan antiperspirant dapat menyebabkan kanker payudara. Perempuan bisa terus menggunakan produk ini tanpa harus merasa takut,” Kata dia seperti dikutip Guardian, Kamis (4/2/2016).

Selain dianggap menimbulkan kanker, belakangan juga timbul perdebatan yang menyebut deodoran bisa memicu penyakit Alzheimer (kepikunan). Namun, belum ada bukti valid yang membuktikan pernyataan itu.

loading...