HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Jika Digusur dari KPK, Novel Baswedan Pasrah

1

HARIANACEH.co.id – Novel Baswedan pasrah jika tak lagi menjadi penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi. Dia bahkan mengaku tak masalah apabila ditendang dari Lembaga antikorupsi itu.

Novel menyerahkan sepenuhnya kepada pimpinan terkait karirnya di KPK. Yang pasti, selama bekerja di KPK, dirinya tak pernah memiliki niat mengejar jabatan. Namun begitu, dia mengingatkan agar KPK tidak asal memilih penyidik untuk menjalankan fungsi memberantas korupsi.

“Kalau pemberantasan korupsi kan harus terkonsep, tidak boleh asal-asalan,” kata Novel saat dihubungi, Jumat (5/2/2016).

Kabar pencopotan Novel sebagai KPK memang mencuat. Bahkan, dia pun disebut akan dipindahkan dari lembaga antikorupsi ini.

Ketua KPK Agus Rahardjo tidak membantah kabar tersebut. Namun, Agus menyatakan, anak buahnya itu masih tetap ‘berperang’ melawan korupsi.

“Novel tetap akan berperang dalam pemberantasan korupsi di tempat lain,” kata Agus dalam pesan singkat, Kamis 4 Februari.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Saut Situmorang pun tak menampik kabar perpindahan Novel ini. Bahkan, ia menilai perpindahan memang diperlukan Novel guna pengembangan personalnya.

Namun, Saut belum bisa memastikan ke mana Novel akan ditempatkan. “Tergantung NB (Novel Baswedan) di mana locus-nya,” ujar Saut.

Diketahui, Novel sedang tersangkut kasus dugaan penganiayaan. Perpindahan ini disebut-sebut agar Novel terlepas dari kasus yang telah menghantuinya beberapa tahun terakhir.

Berkas perkara telah masuk ke Pengadilan Negeri Bengkulu. Namun, akhirnya kejaksaan menarik surat dakwaan dari pengadilan. Sesuai ketentuan dalam pasal 144 KUHAP, kini ada dua opsi yang pada perkara Novel. Pertama penarikan surat dakwaan untuk disempurnakan kembali atau tidak melanjutkan penuntutannya.

Novel sebelumnya disangka melakukan tindak pidana penganiayaan yang mengakibatkan luka berat seseorang di Pantai Panjang Ujung, Kota Bengkulu. Kasus itu dilaporkan pada 18 Februari 2004 oleh Brigadir (Pol) Yogi Haryanto.

Dia dituduh melakukan penembakan terhadap enam pelaku pencurian sarang burung walet di Bengkulu pada 2004. Penembakan yang dilakukan oleh anak buah Novel itu diduga mengakibatkan kematian seorang pelaku bernama Mulia Johani, alias Aan.

Novel yang saat itu menjabat Kasat Reskrim Polres Bengkulu dianggap bertanggung jawab atas penembakan tersebut. Akhirnya, Novel menjalani pemeriksaan kode etik di Mapolres Bengkulu dan Polda Bengkulu. Sanksi teguran dijatuhkan sebagai pelanggaran kode etik atas perbuatan anak buahnya. Namun, setelah insiden itu, Novel masih dipercaya sebagai Kasat Reskrim di Polres Bengkulu hingga Oktober 2005.

Kasus ini meledak ketika dia selaku penyidik KPK mendalami Irjen Djoko Susilo yang ditetapkan sebagai tersangka kasus simulator SIM. Kepolisian bahkan sempat berupaya menangkapnya pada 2012 saat berada di gedung KPK namun batal.

Sempat mereda, kasus itu kembali berembus ketika KPK berseteru dengan kepolisian di 2015. Novel sempat ditangkap pada Jumat 1 Mei dini hari di kediamannya di Kelapa Gading, Jakarta Utara, karena dinilai tidak memenuhi panggilan pertama dan kedua polisi.

Menghadapi perkara ini, Novel pernah mengajukan gugatan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Namun, permohonannya ditolak hakim yang menganggap sah penangkapan dan penahanan terhadap Novel.

loading...