HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Mampukah Kita Menyebuhkan LGBT?

2

HARIANACEH.co.di — #TrenSosial: Sebuah lembaga konsultasi psikologi menyatakan bisa ‘menyembuhkan’ apa yang mereka sebut sebagai ‘pelaku’ lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT), namun klaim ini dipertanyakan oleh banyak pihak.

Dalam sebuah unggahan di Facebook, Rumah Konseling mengumumkan layanan konseling gratis bagi pelaku LGBT. Dengan mengutip ayat-ayat Al-Quran, mereka menyebut bahwa hal itu dilarang dalam agama Islam.

Mereka juga menyatakan ‘perilaku’ LGBT dalam ilmu psikologi dipandang sebagai ‘perilaku’ yang “menyimpang norma dan fitrah manusia dan bisa disembuhkan dengan konseling dan terapi yang berkesinambungan.”

Namun, klaim ini dipertanyakan banyak bihak. Ahli Neurologi, dr. Ryu Hasan mengatakan tidak ada istilah sembuh bagi orang yang memiliki orientasi seksual lesbian gay, dan biseksual.

“Menurut dunia kedokteran saat ini, lesbian, gay, dan biseksual bukanlah penyakit dan bukanlah gangguan. Jadi tidak perlu disembuhkan,” katanya. “Kecuali jika orang tersebut merasa tidak nyaman, itu bisa dibilang gangguan dan baru dilakukan terapi.”

Tetapi, konseling yang dimaksud Ryu Hasan bukanlah untuk menghilangkan perilakunya melainkan berfokus untuk menghilangkan rasa tidak nyaman. Dia menegaskan orientasi seksual tidak bisa diubah.

“Kalau psikologi dikaitkan dengan agama, memang lain lagi (sudut pandangnya). Saya kira wajar jika orang religius tidak bisa menerima perilaku ini karena doktrin agamanya melarang itu. Tetapi itu bukan bagian dari ilmu kedokteran modern ya, beda,” tambah Ryu.

Sentimen negatif terkait komunitas LGBT menguat dalam beberapa pekan terakhir di forum-forum online dan media sosial, dipicu oleh pernyataan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi soal larangan LGBT masuk kampus, yang akhirnya diklarifikasi, bahwa maksudnya berbeda.

Acara-acara terkait LGBT juga mendapat tekanan. Di Surabaya misalnya, acara pencegahan HIV/AIDS dibatalkan setelah ormas Islam melaporkan ke polisi bahwa acara itu adalah ‘pesta gay.’ Di Jakarta, sebuah workshop tentang hak LGBT juga dihentikan setelah adanya komplain dari Front Pembela Islam (FPI).

Semakin tertekan

Muhammad Iqbal, psikolog sekaligus pendiri Rumah Konseling, mengatakan pihaknya memberikan layanan gratis karena banyak orang merasa takut dan kesulitan ‘untuk mencari jalan keluar.’

Iqbal mengibaratkan ‘perilaku’ LGBT seperti narkoba atau judi yang bisa menjadi adiktif. Salah satu faktor utamanya menurutnya adalah kecanduan pornografi. Namun, dia tidak menjelaskan hubungan ‘kecanduan’ pornografi dengan orientasi LGBT mengingat pornografi sebetulnya didominasi oleh kaum heteroseksual. Ia juga tak menyebut secara pasti berapa orang yang menjalani konselingnya dan apakah mereka terbukti ‘sembuh,’

“Sembuh itu relatif, tetapi yang jelas mereka memahami bagaimana melangkah keluar dari situasi tersebut,” klaim Iqbal.

Rumah Konseling bukan satu-satunya yang menyediakan layanan yang biasa dikenal sebagai terapi konversi – yang

ditentang di banyak negara (seperti di Amerika, Australia, dan Cina) karena malah mendorong orang-orang LGBT semakin tertekan hingga tak sedikit yang akhirnya bunuh diri.

Perasaan tertekan itulah yang dirasakan antara lain oleh RR Sri Agustine, pejuang persamaan hak LGBT dari Ardhanary Institute, ketika diajak ibunya ke layanan psikologi ketika remaja. “Saya melihat bahwa konseling ini bukan jalan keluar. Bagaimana perasaan Anda jika diminta untuk berubah menjadi orang lain?” katanya.

Terkait dengan klaim tentang faktor kecanduan pornografi, Agustine mengatakan bahwa harus dipisahkan antara perilaku seksual dan orientasi seksual. “Ketertarikan sangat subyektif dan jika seseorang potensinya gay, ketika berhubungan dengan perempuan suatu saat dia kembali akan menjadi gay. Ini menjelaskan mengapa banyak gay yang menikah dengan perempuan mengira dia bisa ‘sembuh’ ternyata tidak.”

“Begitu juga kalau dia berpotensi heteroseksual, tanpa perlu ke psikolog, dengan waktu yang berjalan dia akan ke kembali ke sana (sebagai heteroseks). Ketika dia berperilaku, belum tentu itu orientasi seksualnya.”

loading...