HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Jika Donald Trump Jadi Presiden AS Apa Yang Akan Terjadi?

2

HARIANACEH.co.id – Belum merupakan sebuah kepastian, tapi saat ini sudah menjadi nyata dan berubah menjadi kemungkinan — apa yang akan terjadi pada Amerika Serikat (AS) dan dunia global jika Donald Trump terpilih menjadi presiden?

Kandidat calon presiden yang tak bisa diprediksi itu bisa menjadi pimpinan negara tertinggi Negeri Paman Sam.

“Kita tidak akan menjadi orang bodoh lagi,” tutur Trump kepada pendukungnya pada akhir Februari lalu. “Kita akan menjadi orang-orang pintar.”

Trump adalah tokoh kompleks — pengusaha real-estate, bintang program televisi dan juga penulis buku. Namun dia tidak pernah berada di kursi pemerintahan atau terlibat dalam kebijakan luar negeri AS.

“Saya rasa dia tidak memiliki banyak pengetahuan mendalam terhadap berbagai isu,” kata mantan diplomat AS, Christopher Hill. “Dia adalah seseorang dengan banyak insting, dan tidak memiliki cukup pengetahuan untuk bergerak dengan insting tersebut,” lanjutnya.

Donald Trump
Donald Trump. (AFP)

Sesuai slogannya, “membuat Amerika hebat kembali,” Trump bertekad membawa perekonomian dan kekuatan militer AS menjadi nomor satu di dunia. Dia memberikan harapan kepada banyak warga AS yang merasa frustrasi atas posisi AS di dunia saat ini. Namun apa yang akan dilakukannya untuk mencapai hal tersebut tidak pernah diungkapkan secara detail.

Berikut hal-hal yang diprediksi akan terjadi jika Trump menjadi presiden AS, seperti dirangkum Jonathan Mann dari CNN, Rabu (2/3/2016):

Tembok Besar

Salah satu sorotan dalam kampanye Trump adalah rencananya membangun sebuah tembok besar di sepanjang perbatasan AS dan Meksiko. Tujuannya, menurut Trump, untuk mencegah datangnya imigran ilegal, kriminal dan pengedar narkotika.

Ia bersikukuh Meksiko harus membayar biaya pembangunan tembok itu. Juru bicara pemerintahan Meksiko menegaskan tidak akan pernah menyetujuinya.

Entah dari mana dananya, hampir dapat dipastikan melibatkan miliaran dolar AS. Jika dari dana pemerintah, maka Trump harus terlebih dahulu mendapat persetujuan Kongres.

Dan sejauh ini tidak ada indikasi Kongres AS akan mendukung rencana tersebut.

Perbatasan AS dan Meksiko
Perbatasan AS dan Meksiko. (AFP)

ISIS

Merespons ancaman kelompok militan Islamic State (ISIS) di kancah global, Trump pernah berjanji akan “membombardir habis-habisan” ISIS di Irak — terutama terhadap beberapa sumur minyak — untuk memangkas sumber dananya.

Untuk di Suriah, Trump mengaku akan menyerahkan tugas memerangi ISIS kepada pemerintah lokal. Trump adalah satu-satunya tokoh di AS yang menyambut baik keterlibatan Rusia dalam konflik di Suriah.

Di bawah Trump, nantinya AS juga akan menolak mentah-mentah Muslim dari seluruh dunia. Ia menegaskan akan menolak datangnya Muslim hingga ada regulasi yang lebih jelas.

Untuk masalah konflik Suriah, Trump menyarankan dibuatnya semacam zona aman di negara tersebut, yang pendanaannya akan dibantu Washington. Ia juga meminta negara lain turut berkontribusi dan melindungi zona tersebut.

Bendera hitam ISIS
Bendera hitam ISIS. (AFP)

Perang Melawan Terorisme

Metode interogasi kontroversial waterboarding akan dimunculkan kembali jika Trump menjadi presiden. Waterboarding dilarang karena terlalu menyiksa tahanan, dan Presiden Barack Obama sudah melarangnya beberapa tahun lalu. Trump dengan santai menyebut waterboarding adalah metode “yang tidak terlalu keras.”

Dia mengatakan kepada para pendukungnya bahwa “penyiksaan itu bisa menelurkan hasil.” Trump juga berencana tetap membuka penjara Guantanamo Bay di Kuba dan menambah jumlah narapidananya.

Perdagangan

Trump menegaskan saat ini AS sedang dieksploitasi oleh sejumlah mitra perdagangan global. Tudingan liar ini paling gencar dilontarkan Trump terhadap Tiongkok.

Kepada New York Times, Trump memaparkan rencananya menerapkan 45 persen tarif untuk barang-barang impor Tiongkok. Trump membantah ini di kemudian hari, tapi Times sudah merekam wawancara itu dan merilis rekamannya.

Pergantian Rezim 

Pada 2011, Trump mendesak adanya intervensi AS untuk membantu Libya menjatuhkan diktator Moammar Gadhafi. Bulan lalu, dia membantahnya. Namun sekali lagi, ada rekaman dari ucapan kontroversialnya itu.

Saat ini Trump juga mengkritik habis invasi AS ke Irak pada 2003. Trump kelabakan saat diminta menjelaskan komentarnya yang mendukung invasi itu di masa lalu. “Itu sudah lama sekali,” ucap Trump kepada NBC News. “Ketika itu saya tidak tahu apa yang ada di kepala saya.”

Dia pernah mengatakan kepada CNN bahwa dirinya berubah pikiran sebelum perang dimulai.

Sekutu-sekutu Amerika

Trump mengaku frustrasi atas tingginya biaya aktivitas militer AS di Eropa dan juga terhadap tekanan untuk memimpin organisasi NATO. “Dimana Jerman? Dimana negara-negara di Eropa yang bisa memimpin? Saya tidak keberatan membantu mereka. Saya tidak keberatan berada di belakang mereka,” ucap dia.

Dia juga ingin Korea Selatan lebih mendukung pendanaan atas perlindungan AS. “Kita tidak mendapat apa-apa (dari melindungi Korsel). Saya tidak bilang kita akan membiarkan sesuatu terjadi kepada mereka. Tapi mereka harus membantu kota. Faktanya, menurut Politifact.com, AS menerima lebih dari USD800 juta per tahun dari Korsel atas kehadiran militer.

Prajurit AS di Korsel
Prajurit AS di Korsel. (AFP)

Israel 

Trump telah berjanji tetap “netral” dalam mendamaikan Israel dan Palestina. Dia juga berjanji mendukung penuh Israel.

Namun beberapa pernyataan Trump seperti bertolak belakang dari janjinya. Ia menyebut perbatasan AS terlalu terbuka bagi warga asing (termasuk dari Israel), ekonomi AS terlalu mudah dieksploitasi mereka, dan aliansi militer dengan Israel terlalu berat sebelah. Trump kerap mengungkapkan apa yang ada di kepalanya atas berbagai isu internasional — dan terkadang dia tidak setuju dengan apa yang ada di dalam kepalanya.

Kebijakan Luar Negeri

Gedung Putih di Washington

Banyak pakar di AS dan dunia tidak sepakat terhadap rencana Trump yang akan dibawa ke Gedung Putih jika dirinya menjadi presiden. Namun ada segelintir orang yang mencoba mencari sisi positif dari kontroversi Trump.

“Di bawah kepemimpinan Trump, kebijakan luar negeri akan lebih kokoh dan pro aktif. Kebijakan Trump juga akan mirip dengan tahun-tahun (kepemimpinan Presiden Ronald) Reagan, yakni mendorong perdamaian melalui kekuatan ekonomi dan militer,” kata ekonom Peter Navarro dari Universitas California.

Namun Jamie Metzl, mantan pejabat Kementerian Luar Negeri dan kandidat Partai Demokrat untuk Kongres AS, mengatakan: “Dunia ini adalah ekosistem kompleks, dan sikap Trump yang ditunjukkan dalam kampanyenya akan terasa sangat tidak mengganggu.”

Andaikan saja jika pada akhirnya jadi presiden, Trump tidak akan leluasa bertindak. Kongres dan sistem pengadilan di AS dapat menghalangi kebijakan dari presiden. Aktivis, perindustrian dan berbagai grup juga akan bergerak jika kebijakan presiden dinilai janggal. Opini publik juga dapat memberikan tekanan kepada presiden, mengenai bagaimana cara Amerika bisa menjalankan perannya dengan baik di dalam negeri dan global.

loading...