HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Hemat USD286,4 Juta, Ini Dia Revolusi Mental ala Pertamina

1

HARIANACEH.co.id – Dengan pengawasan ketat serah terima minyak mentah dan Bahan Bakar Minyak (BBM), PT Pertamina (Persero) mencatat telah menghemat USD286,4 juta atau hampir mencapai Rp4 triliun.

Pengawasan ketat serah terima minyak telah dilakukan tim Pembenahan Tata Kelola Arus Minyak (PTKAM) sejak Maret 2015. Tim ini dibentuk karena adanya angka susut serah terima minyak yang mencapai USD530 juta di 2014.

Tim PTKAM yang bertugas melaksanakan pengawasan dan evaluasi terhadap kegiatan pendistribusian minyak mentah dan produk BBM sesuai tugas dan tanggung jawab. PTKAM juga melakukan koordinasi dengan tim kerja yang dibentuk di Direktorat/Fungsi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Tim PTKAM Korporat.

Mengawasi proses serah terima minyak bukanlah perkara mudah karena banyak pihak yang terlibat dan adanya kerumitan perhitungan. Dalam proses serah terima minyak ada empat pihak, yaitu pengirim, penerima, alat angkut transpotasi, dan ada pihak lain pengendali proses yang disebut surveyor.

Nilai yang mampu dihasilkan Pertamina melalui penghematan dalam waktu kurang dari setahun merupakan pencapaian luar biasa. Kunci keberhasilan tersebut adalah terbentuknya kepedulian dan kesadaran (awareness) di setiap lini proses serah terima minyak.

Proses pembentukan kesadaran ini dilakukan tim PTKAM dengan menyisir terminal penyimpanan minyak mentah dan BBM yang paling banyak menghilangkan minyak (losses). Tim juga mendatangi seluruh proses sumber, pengiriman, pengolahan minyak, dan pihak yang bertanggung jawab dalam serah terima minyak di Indonesia.

Di tempat-tempat tersebut, dilakukan sosialisasi pada orang-orang yang terlibat dalam proses serah terima minyak dan manajemen puncak. Selanjutnya, dilakukanworkshop dan pembentukan witness team yang ditugaskan di terminal muat/bongkar terpilih.

Proses ini membuktikan, ketika semua pihak peduli, mau berbenah, dan bergerak menuju perbaikan. Maka kepedulian itu menjelma menjadi sebuah kunci sukses.

Keberhasilan Pertamina tersebut merupakan buah dari Revolusi Mental, yaitu gerakan untuk memperbaiki karakter komunitas yang menjadikan lingkungan kerja bergerak ke arah yang lebih baik. Perilaku tidak peduli telah mengakibatkan lossesdi terminal muat, di alat angkut, dan di terminal bongkar.

Dengan Revolusi Mental, PT Pertamina menargetkan kehilangan minyak dapat ditekan hingga 0,2 persen atau setara USD100 juta. Revolusi mental yang diterapkan Pertamina ternyata menarik perhatian banyak pihak, termasuk Profesor Rhenald Kasali dalam kolomnya di salah satu media cetak yang berjudul ‘Mengapa Rickover dan Pertamina Disegani?`.

“Kini saya ajak Anda meneropong Pertamina, yang paling banyak diuji dalam sejarah. Ketika harga migas dunia turun seperti saat ini (dan hampir semua perusahaan migas dunia merugi), Pertamina masih bisa memberikan kontribusi positif. Pertamina memiliki lima pilar strategi prioritas. Memakai jurus Rickover, saya ajak Anda fokus pada pilar kedua: efisiensi. Saya tegaskan, efisiensi tak mungkin dilakukan tanpa disiplin. Pembenahan kedua adalah perbaikan tata kelola arus minyak yang dilakukan tim Pembenahan Tata Kelola Arus Minyak (PTKAM). Pada setiap tahap serah terima minyak, seperti saat loading, selama perjalanan, atau ketika pembongkaran, menurut temuan Pertamina, selalu ada losses. Bentuknya macam-macam. Masalah-masalah itulah yang ditelusuri tim PTKAM dan dibenahi. Hasilnya? Berbagai kebocoran tadi bisa ditekan. Pada Desember 2015 Pertamina berhasil menghemat hingga USD215,4 juta atau setara dengan Rp3 triliun. Menangani urusan sampai detail memang melelahkan, tapi hasilnya sepadan. Bandingkan dua capaian tadi dengan laba bersih Pertamina yang sampai semester III 2015 tercatat USD340 juta. Saya kira, ketika pertumbuhan ekonomi sedang seperti saat ini, upaya-upaya efisiensi bisa membuat kita jadi hebat. Sehebat kapal selam nuklir US Navy. Dan bisnis-bisnis kita bisa meniru. Mari kita ambil hikmahnya.”

loading...