HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Kasus Suap MA, KPK Periksa Karyawan Hotel JW Marriott

2

HARIANACEH.co.id – Komisi Pemberantasan Korupsi periksa dua karyawan Hotel JW Marriott Surabaya, Irwansyah Putra dan Sapta Wibawa. Keduanya, diperiksa sebagai saksi terkait kasus dugaan suap penundaan pemberian salinan putusan kasasi perkara korupsi di Mahkamah Agung (MA).

Pelaksana harian (Plh) Kabiro Humas KPK Yuyuk Andriati menjelaskan, pemeriksaan terhadap karyawan hotel ini dilakukan untuk mengungkap dugaan adanya pertemuan antara Ichsan Suaidi selaku Direktur PT Citra Gading Asritama dan Kasubdit Kasasi dan Peninjauan Kembali Perdata Khusus MA, Andri Tristianto Sutrisno diduga pernah bertemu di Hotel JW Marriott Surabaya.

Ichsan dan Andri merupakan tersangka kasus dugaan suap penundaan pemberian salinan putusan kasasi perkara korupsi di Mahkamah Agung (MA). Penyidik, kata dia, ingin menggali informasi apakah kedua karyawan ini pernah bertemu dengan tersangka.

Pemeriksaan ini pun merupakan penjadwalan ulang, setelah sebelumnya Irwansyah dan Sapta tidak hadir pada panggilan pemeriksaan kemarin.

“Pemeriksaan ini keterkaitannya mengenai dua tersangka bertemu di lokasi tersebut. Penyidik mengkonfirmasi apakah benar, pertemuan antara tersangka ATS dan IS,” ujar Yuyuk saat konfrensi pers di Gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (4/3/2016)

Terkait apakah telah terjadi transaksi suap di hotel itu, Yuyuk belum dapat memastikannya. Menurut dia, penyidik masih mendalami kemungkinan terjadinya transaksi di hotel bintang lima tersebut.

“Sampai saat ini belum ditemukan informasi soal apa yang dilakukan tersangka didalam lokasi tersebut,” kata dia.

Kasus ini terkuak saat Andri tertangkap tangan usai menerima uang Rp400 juta dari Direktur PT Citra Gading Asritama, Ichsan Suaidi lewat pengacaranya, Awang Lazuardi Embat dikediamannya. Saat itu, penyidik KPK turut menyita sebuah koper yang berisi uang Rp500 juta.

Mereka bertiga langsung ditetapkan sebagai tersangka usai menjalani pemeriksaan intensif. Ichsan dan Awang diduga sebagai pemberi suap. Sementara Andri diduga penerima suap dalam dugaan penundaan pemberian salinan putusan kasasi terkait perkara Ichsan.

Ichsan dan Awang selaku pemberi suap diancam pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Sementara itu, Andri selaku pihak yang diduga penerima suap disangka Pasal 12 huruf a atau huruf b atau pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

loading...