HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Antara Tuntutan Kemerdekaan Palestina dan KTT Luar Biasa OKI

1

HARIANACEH.co.id – KTT luar biasa OKI yang ke-5 tentang Palestina dan Al-Quds pada 7-8 maret 2016 di Jakarta, akan segera berlangsung. Ketua Komisi I DPR RI Mahfuz Sidik menyatakan Palestina dalam kondisi darurat merdeka.

“KTT ini diselenggarakan dalam situasi dunia Islam yang memprihatinkan. Ini menyebabkan untuk waktu tiga tahun terakhir, isu Palestina seperti terpinggirkan,” ujar Mahfuz, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (5/3/2016).

“Situasi di dalam Palestina sendiri semakin tidak jelas. Dua situasi ini membuat KTT OKI ini menjadi sangat penting untuk mampu ‘menyelamatkan’ Palestina dan termasuk Al-Quds. Mengapa demikian? Pertama, ketika muncul gelombang Arab Spring di kawasan timur-tengah dan Afrika Utara, terjadi turbulensi politik antara kekuatan baru dengan kekuatan lama,” tutur Mahfuz.

Arab Spring tentunya menyedot energi politik dan ekonomi yang sangat besar. Perhatian terhadap isu Palestina pun terpinggirkan. Celakanya, kekuatan-kekuatan politik baru pada Arab Spring dipandang lebih dekat dengan kekuatan politik garis keras di Palestina. Sentimen negatif akhirnya menjalar juga ke Palestina. Dan saat ini gerakan kontra Arab-spring kembali berkuasa.

“Imbasnya sikap politik mereka terhadap Palestina pun nampak melemah. Kedua, konflik baru di kawasan timur-tengah yang didominasi oleh isu ISIS dan konflik sunni-syiah juga berdampak besar bagi Palestina,” imbuh politikus PKS itu.

Suriah misalnya yang sejak lama -bersama Iran- mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina, sekarang menarik diri. Alasannya karena kekuatan politik di Palestina tidak mendukung rezim Bashar Assad, malah cenderung meninggalkannya.

Biaya konflik dan perang yang ditanggung negara-negara di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya, mengakibatkan bantuan keuangan kepada Palestina nyaris berhenti total.

Ketiga, dunia Islam secara keseluruhan juga menghadapi tantangan dan ancaman baru sebagai pekerjaan rumah domestiknya. Penurunan laju ekonomi dan masalah terorisme, membuat banyak negara muslim mengalihkan perhatian dari isu Palestina.

Keempat, negara-negara di kawasan Eropa maupun Amerika Serikat juga memiliki persoalannya besarnya sendiri. Selain persoalan ekonomi dan politik dalam negerinya, konflik di kawasan Timur Tengah juga memiliki dampak terhadap negara-negara di kawasan Eropa dan AS.

“Dengan empat faktor ini, Palestina terjebak dalam situasi sulit. Menghadapi berbagai persoalannya sendirian. Dalam situasi ini, Israel mengambil kesempatan dengan meningkatkan agresinya,” sebut Mahfuz.

“Lihat saja program pembangunan pemukiman baru terus saja berlangsung, meski sudah ada resolusi PBB. Serangan militer terhadap kelompok sipil berlangsung hampir tiap hari dan sepi dari pemberitaan. Bahkan, Israel semakin berani mengklaim masjid Al-Aqsha sebagai wilayah suci yang berhak dimasuki warga Yahudi,” pungkasnya.

Kondisi dalam negeri Palestina, baik di Tepi Barat maupun Gaza sangat berat secara ekonomi. Krisis keuangan, pangan, pengangguran dan juga gangguan keamanan semakin meningkat. Hal ini tentu saja bisa memicu radikalisme lanjutan menuju konflik terbuka dengan Israel.

Bukan mustahil, situasi ini justru ditunggu oleh Israel. Perang terbuka Israel vs Palestina di tengah situasi dunia Islam – khususnya negara-negara Timur Tengah sedang sibuk dengan konflik yang lain.

“Di sinilah letak urgensi dan pentingnya Konferensi Luar Biasa OKI yang ke-5 tentang Palestina dan Al-Quds. Konferensi ini harus mampu mengkonsolidasi kembali perhatian dan dukungan negara-negara anggota OKI terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina. Juga harus mampu meletakkan peta jalan baru menuju Palestina Merdeka. Tidak cukup hanya dengan deklarasi atau resolusi,” tegasnya.

Mahfuz menambahkan, komitmen dan langkah aksi bersama mengatasi berbagai persoalan yang ada Indonesia,-sesuai visi Presiden Jokowi untuk terus mendukung kemerdekaan Palestina- sangat tepat untuk mengambil inisiatif bahkan menjadi motor dari gerakan OKI ini.

“Saya juga menghargai rencana pemerintah untuk membuka Konsul Kehormatan Indonesia di Palestina dan melantik pejabatnya pada pertengahan Maret tahun ini. Kesadaran kolektif negara anggota OKI harus terbangun baik bahwa Palestina saat ini berada dalam status Darurat Merdeka,” tutup Mahfuz.

loading...