HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Kenapa Indonesia Begitu Mengistimewakan Gerhana Matahari Total?

1

HARIANACEH.co.id – Gerhana matahari total pada Rabu pagi 9 Maret hanya melintasi beberapa wilayah di Tanah Air. Karena itu, fenomena ini jadi begitu istimewa bagi Indonesia.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyebutkan gerhana matahari total hanya bisa disaksikan di Palembang, Belitung, Balikpapan, Luwuk, Sampit, Palu, Ternate, Bangka, Palangkaraya, Poso, dan Halmahera.

Sedangkan gerhana matahari sebagian bisa dilihat dari Padang, Bandung, Denpasar, Kupang, Surabaya, Banjarmasin, Manado, Jakarta, Pontianak, Makassar, dan Ambon.

Fenomena alam yang diperkirakan muncul 350 tahun sekali ini diyakini akan menyedot perhatian masyarakat luas. “Karena langka dan menjadi fenomena yang menjadi perhatian publik, pemburu gerhana tentu di manapun lokasinya mereka berupaya untuk datang,” kata Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin, Senin (7/3/2016).

Jadwal Gerhana Matahari Total

Pria lulusan S1 Astronomi ITB ini mengatakan, kalau gerhana matahari termasuk fenomena alam biasa. Sebab, dalam satu tahun kombinasi gerhana bulan dan gerhana matahari bisa terjadi lima hingga tujuh kali.

Namun, gerhana matahari total bisa dikatakan istimewa dan langka. Sebab, tidak semua wilayah belahan bumi dilalui gerhana matahari total. Jalur gerhana matahari total selalu berubah-ubah.

“9 Maret, daratan yang dilalui hanya wilayah Indonesia. Sehingga peneliti dan juga wisatawan yang ingin melihat gerhana matahari total harus datang ke Indonesia,” ujar Thomas.

Keistimewaan gerhana matahari total tidak hanya dirasakan wisatawan, tapi tentu bagi para peneliti. Thomas mengatakan, LAPAN akan meneliti peristiwa ini langsung di daerah yang dilalui gerhana matahari total.

LAPAN akan meneliti parameter atmosfer di Palembang, meneliti variasi medan magnet bumi di Ternate, mengkaji ulang teori kelengkungan ruang waktu atau lensa gravitasi di Ternate. “Lalu terakhir penelitian terkait fisika korona matahari di Maba Maluku Utara,” kata Thomas.

Menurut dia, astronom dunia juga sudah banyak yang meneliti gerhana matahari total sebelumnya. Teori baru terkait ilmu pengetahuan alam bermunculan saat terjadi gerhana matahari total.

“Dulu gerhana dipakai untuk mengkalibrasi penghitungan waktu. Gerhana juga digunakan untuk membuktikan teori Einstein terkait kelenggkungan ruang waktu bahwa cahaya itu dibelokkan oleh benda dengan masa sangat besar. Itu sudah dibuktikan pada gerhana matahari total di Brazil pada 1919,” papar Thomas.

Gerhana matahari di Takengon, Aceh, pada 1929 juga jadi ajang pembuktian teori. Saat ini, penelitian gerhana matahari total untuk memperdalam teori dengan alat lebih canggih.

“Walaupun beberapa ada yang mengulang untuk menguji teori penelitian sebelumnya,” kata Thomas.

loading...