HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

LGBT: Kami Ingin Sembuh Jangan bully Kami

2

HARIANACEH.co.id – Menjadi pecinta sesama jenis bukanlah impian AJ, 20, perempuan asal Jombang, Jawa Timur. Memang ia berpenampilan tomboy. Tapi dirinya, dulu, adalah perempuan tulen.

AJ memulai kisahnya sebagai seorang lesbi di bangku sekolah menengah pertama. Kedekatannya dengan kedua kakak tingkatnya memunculkan getaran cinta ‘yang tak biasa’.

“Itulah awal aku menjadi seorang lesbi,” kata AJ yang kini menempuh pendidikan Strata 1 di Malang, Jawa Timur.

Kisah itu berlanjut hingga ia menempuh pendidikan di sekolah menengah umum di Mojoagung, Jombang. Ia bahkan mulai berani mengajak teman perempuan menjadi pacarnya.

“Aku mengungkapkan perasaanku. Tanpa disangka, ternyata banyak juga cewek mau jadi pacarku,” kata perempuan tersebut.

Gaya hidup AJ terdengar kedua orangtuanya. Sang ibu yang kecewa lalu mengusir AJ dari rumah mereka. AJ pun ngekos dan melanjutkan jalan hidupnya sebagai lesbi. Ia tinggal satu kos dengan pacar perempuannya.

AJ terus meyakinkan orangtua soal pilihan hidupnya itu. Sang orangtua sadar dan menghargai kejujuran AJ. Lantaran itu,AJ tak memedulikan pendapat tetangga tentang dirinya.

Meski sudah 10 tahun AJ menjalani kehidupannya, hati kecilnya memberontak. Ia sadar akan kodratnya sebagai perempuan tapi hasratnya mencintai Kaum Hawa juga tak terbendung.

Bukannya AJ tak pernah mencoba keluar dari lingkaran lesbi. Ia pernah mencoba untuk mencintai seorang pria. Tapi hatinya hancur. Pria itu berselingkuh dengan perempuan lain. AJ pun makin teguh menjadi lesbi.

Kedua orangtua pun terus berusaha menyadarkan AJ. Mereka pernah mengajak AJ beribadah umrah ke Tanah Suci. Agar, hati AJ terbuka mengakui dirinya adalah perempuan. Kodratnya, perempuan berpasangan dengan laki-laki, bukan dengan perempuan juga.

Bahkan, orangtua berencana berangkat haji pada 2016 ini. Mereka mengajak AJ agar hidayah turun pada perempuan tersebut.

“Kata orangtua, agar pintu hidayah terbuka untukku,” tuturnya.

Aksi penolakan terhadap kaum lesbi gay biseks dan transgender (LGBT) membuat AJ angkat bicara. Bila LGBT adalah penyakit, AJ meminta warga tak mengintimidasi mereka. LGBT, kata AJ, butuh obat dan pendampingan.

“Jika kami terus di-bully, bukannya sembuh tapi malah semakin menjadi. Kami seperti ini adalah pencarian jati diri,” imbuhnya.

Di setiap hati nurani kaum LGBT, AJ mengatakan ada keinginan untuk kembali ke kodrat masing-masing. Tapi, banyak orang yang memandang mereka dengan ‘jijik’. Malah, ada yang menganggap mereka lebih hina dari hewan.

“Apakah yang menganggap kami ini hina, mereka jauh lebih baik? Aku rasa tidak, karena mereka juga masih berbuat kejahatan dan kemunafikan di muka bumi ini,” lanjutnya.

Soal wacana pembentukan undang-undang terkait LGBT, AJ menganggap itu sia-sia. Wacana itu hanya menghabiskan waktu. Masih banyak yang lebih penting ketimbang memberanguskan LGBT melalui undang-undang.

“Dari lubuk kami, jangan bully kami. Jauh di lubuk hati kami yang terdalam, kami ingin sembuh,” harap AJ.

loading...