HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Padamnya Listrik di Aceh Tak Padamkan Semangat Zikir dan Dalail Khairat

2

HARIANACEH.co.id, ACEH BESAR – Dike (Zikir) dan Dalae (Dalail) merupakan salah satu budaya yang masih kental di Bumi Rencong, Aceh. Budaya ini dengan mudah dapat kita temui hampir setiap malam terutama di malam Jumat di seluruh meunasah (balai pengajian) dan dayah di Aceh.

Dalam alunan Dalae (zikir) banyak disebutkan bacaan seperti Asmaul Husna, Salawat, Do’a dan Qasidah Burqah yang terus menerus dibaca secara membahana di seluruh penjuru Aceh.

Kitab Dalae (Dalail Khairat) sendiri disusun oleh Abu Abdillah Muhammad Ibn Sulaiman Al-Jazuliy Al-Simlaly Al-Syarif Al-Hasani yang lebih dikenal dengan Syekh Al-Jazuliy. Beliau lahir di Jazirah, Maroko, Afrika kemudian belajar di Fas, sebuah kota yang ramai terletak tak jauh dari Mesir. Dan di kota inilah Syekh Al-Jazuliy menulis kitab yang amat terkenal tersebut.

Dalam Kasyfu Dzunun 1/759, Haji Khalifah berkata “Kitab ini merupakan tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah tentang Shalawat kepada Rasul, biasa dibaca di bumi belahan Barat dan Timur, terutama di negara Eropa dan Asia. Kitab Dalail Khairat ini merupakan kumpulan Shalawat untuk Junjungan Nabi Besar Muhammad SAW yang bertujuan untuk memuji kebesaran Allah Subhanahi wa Ta’ala.

Dilihat dari sejarahnya, Dike (zikir) dan Dalae (dalail) sudah dikenal di Aceh sejak zaman Kerajaan Aceh Darussalam.

Seiring perkembangan zaman dan teknologi telah terjadi pergeseran nilai-nilai di lingkungan masyarakat Aceh. Demikian juga halnya dengan Dike (zikir) dan Dalae (dalaila) yang sudah mulai kurang digemari oleh masyarakat modern.

Keadaan seperti ini menjadi tantangan tersendiri terutama bagi masyarakat Dusun Monsinget, Kajhu Aceh Besar. Menurut Cut Dhan kepala Dusun Monsinget “Dengan membangkitkan kembali Dike dan Dalae di Meunasah akan dapat mempererat kekompakan masyarakat baik dikalangan Orang tua, pemuda bahkan anak-anak. Sebab dalam medike dan dalae tidak pandang usia”, jelasnya kepada wartawan HARIANACEH.co.id.

Hal senada juga disampaikan oleh Ikhsan, Ketua pemuda Dusun Monsinget ini mengatakan, “Dengan adanya Dike dan Dalae yang kita pilih setiap malam Sabtu nantinya dapat menciptakan kekompakan pada masyarakat terutama Dusun Monsinget Kajhu Aceh Besar, sehingga menimbulkan juga kecintaan kita terhadap ilmu agama,”.

Sementara itu Tgk. Abu Amirruddin pimpinan Dayah Lamcalok Monsinget Kajhu Aceh Besar yang memimpin Dike dan Dalae ini, berharap dengan adanya Dike dan Dalae setiap malam Sabtu warga Monsinget dapat berpartisipasi dan juga cinta untuk belajar ilmu agama lebih baik lagi.

Beliau juga mengatakan bahwa selain malam Sabtu, “pada malam Jumat juga ada pengajian surah kitab di Dayah Lamcalok Dusun Monsinget Kajhu Aceh Besar yang sudah mulai digemari oleh masyarakat Kajhu dan sekitarnya, semoga Allah senantiasa melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya bagi kita semua kaum Muslimin,” pungkas Beliau disela-sela medike dan dalae dibawah cahaya yang bersumber dari handphone pada saat lampu padam yang tak memudarkan semangat masyarakat dalam medike dan medalae.

Pada kesempatan ini juga Tgk. Abu Amiruddin menyertakan santri-santrinya yang juga berasal dari Malaysia.(HAI/Madi)

loading...