HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Data Panama Papers Berhasil Dikantongi PPATK

5

HARIANACEH.co.id – Aset orang Indonesia di luar negeri melebihi Rp11.400 triliun. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) sejak lama mengantongi data transaksi orang Indonesia, sebagian masuk dokumen Panama Papers, di luar negeri.

“Ada (data transaksinya) ke Panama, BVI, Cayman, Luksemburg, Swiss,” kata Wakil Ketua PPATK Agus Santoso, Rabu (6/4/2016).

Guna menelusuri hal itu, PPATK bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan dan Kejaksaan Agung untuk membuat satuan tugas. Data laporan hasil analisis (LHA) PPATK diberikan ke kedua lembaga tersebut.

Dokumen ‘Panama Papers’ menyebutkan sejumlah tokoh penting di seluruh dunia, termasuk pengusaha dan pejabat Indonesia yang diduga melakukan pencucian uang dan pengemplangan pajak melalui jasa kantor hukum di Panama, Mossack Fonseca.

Kejaksaan Agung akan memproses dugaan kasus penggelapan pajak yang dibeberkan dalam ‘Panama Papers’. “Kalau ada indikasi (penggelapan pajak) seperti itu, kita minta penjelasan dari mereka (Kementerian Keuangan),” ujar Jaksa Agung HM Prasetyo.

Hal Lazim

Nama pengusaha yang juga bakal calon gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno juga disebut dalam Panama Papers. Ia mengakui pernah bekerja sama dengan Mossack Fonseca.

Sandi mengatakan, di dunia bisnis, khususnya dalam proses investasi dan penciptaan lapangan kerja, seorang pengusaha sangat lazim menggunakan jasa penyedia offshore corporations, perusahaan bayangan di yurisdiksi bebas pajak.

“Namun, tentu dalam penggunaan jasa offshore corporations itu semua dalam koridor hukum,” ujar Sandi kepada Metrotvnews.com.

CEO PT Bakrie Global Ventura Anindya N Bakrie tidak mengomentari soal namanya yang juga tercantum dalam Panama Papers. Kemarin, Anindya mengaku menerima link terkait dokumen itu, namun ia belum membacanya. “Saya mesti baca dulu.”

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Rosan P Roeslani juga bungkam. Nama pribadi dan perusahaannya, PT Recapital Advisor, tercatat menggunakan jasa Mossack Fonseca.

“Karena kalau saya komentar, berarti kan saya atas nama Kadin. Jadi saya mesti tahu lebih detail lagi,” kilah Rosan.

Dalam pandangan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani, bisa saja para pengusaha menaruh uang mereka di luar negeri untuk alasan keamanan.

“Mungkin alasannya lebih ke sekuriti berbentuk portofolio keluarga,” ujar Hariyadi.

Mantan Direktur Utama PT Bank Mandiri (persero) Tbk Budi Gunadi Sadikin pun mengatakan keputusan para pengusaha menyimpan dana di luar negeri tidak salah secara legal karena tidak ada aturan di Indonesia.

Akan tetapi, tindakan tersebut ia menilai tidak etis. “Secara legal tidak salah, tapi secara etis itu salah. Kalau dapat uang di sini, ya bayar pajak di sini,” cetusnya.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyebut aset melebihi Rp11.400 triliun milik orang Indonesia selama ini ditempatkan di tax haven country (negara bebas pajak).

“Potensinya melebihi PDB (produk domestik bruto),” kata Bambang.

loading...
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time