HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Diduga Ada Mafia Gula Impor Dibalik Pernyataan Panja Gula DPR

10

HARIANACEH.co.id, JAKARTA – Pemerhati Gula Nusantara, Gatot Triyono menyayangkan pernyataan Anggota DPR RI Abdul Wahid yang mendesak pemerintah untuk menutup 9 industri gula rafinasi dari 11 indistri gula rafinasi. Pernyataan tersebut asal bunyi dan tanpa solusi dan sama saja akan membunuh Industri makanan dan minuman nasional yang hampir meyerap tenaga kerja formal dan informal sebesar 18,9 juta pekerja.

“Selain itu, juga akan menningkatnya Inflansi secara nasional karena mahalnya harga makanan dan minuman akibat tingginya harga Gula,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima HARIANACEH.co.id, Rabu (6/4).

Gatot Triyono yang juga sebagai Ketua Indonesia Sugar Watch ini menilai pernyataan Abdul Wahid patut dicurigai pesanan para Importir Gula putih sebagai suatu cara untuk mem-bargain pemerintah untuk membuka kran import gula putih sebagai usaha untuk mengimpor gula putih secara langsung. Padahal impor gula putih tersebut tidak memberikan value added untuk industri dalam negeri karena tidak melalui proses rafinasi menjadi gula putih dan menambah beban devisa negara saja.

“Gula impor yang tanpa proses itu tidak terjamin kandungan ICUMSA sehingga bisa membahayakan kesehatan masyarakat yang mengkomsumsi gula putih impor tersebut. Gula impor ini juga pada akhirnya akan menghancurkan pabrik gula milik BUMN dan menjatuhkan harga panen tebu petani dan Petani tebu makin merana nasibnya,” tandasnya.

Gatot menyarankan pemerintah Jokowi untuk membiarkan 11 Industri rafinasi tetap memproduksi Gula Kristal sampai dengan tumbuhnya Pabrik-Pabrik Gula milik BUMN. Dari proyeksi kebutuhan gula nasional pada tahun 2015, kebutuhan gula nasional mencapai 5,77 juta ton, maka kebutuhan Gula Nasional 2016 akan meningkat sebesar sebesar 5,97 sementara itu jumlah produksi Nasional untuk tahun 2016 akan menurun mendekati 2 juta ton dibandingkan produksi tahun 2015 yang sebesar 2.9 juta ton.

“Dengan kondisi ini, keberadaan Industri Gula rafinasi sangat dibutuhkan.Jadi pernyataan Anggota DPR RI tersebut menunjukan ketidakpekaan dengan dampak jika 11 industri rafinasi gula ditutup,” cetusnya.

Dijelaskan Gatot, produksi gula 2016 juga diakibatkan oleh el nino pada 2015 dan pada akhirnya berdampak pada capaian produksi gula 2016. Tanaman tebu baru yang ditanam pada awal 2015 mengalami stagnasi pertumbuhan akibat kekurangan pasokan air. Akibatnya produktivitas berpotensi menurun dari 67,6 ton/ha pada 2015 menjadi 64 ton/ha pada tahun 2016.

Akibat produksi gula yang terus anjlok ini, kebutuhan gula Nasional untuk konsumsi langsung sekitar 3 juta lebih ton tidak cukup untuk dipenuhi oleh produksi dalam negeri.

“Maka jika 11 Industri gula rafinasi asal ditutup maka akan terjadi kelangkaan Gula nasional dan menyebabkan hancurnya jutaan Industri Usaha Kecil Menengah yang menghasilkan makanan minuman,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya bahwa, Wakil Ketua Panitia Kerja (Panja) Gula DPR RI Abdul Wahid meminta pemerintah untuk mengevaluasi keberadaan sembilan dari 11 industri gula rafinasi yang izin operasionalnya sudah habis.

Pernyataan tersebut disampaikan dihadapan Dewan Pembina dan DPP Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) serta Direksi PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI, PTPN X, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), dan PT Kebon Agung selaku mitra strategis petani tebu di Surabaya pada 21 Maret 2016.(PR)

loading...