HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Kama-Abdya Jogja Gelar Forum Pencerahan Arah Pembangunan Pantai Barat – Selatan Aceh

22

Oleh: Muhammad Mairiska Putra

HARIANACEH.co.id, YOGYAKARTA – Keluarga Meurante Aceh Barat Daya yang disingkat dengan KAMA-ABDYA kembali menggelar kegiatan forum pencerahan dengan pemateri bapak Fadhli Ali, SE dan bapak Thaifal Herizal, ST yang secara kebetulan sedang mengikuti agenda kerja di Yogyakarta. Diskusi bertajuk “Arah Pembangunan Pantai Barat Selatan Aceh” dilaksanakan di café House of Raminten Yogyakarta pada 31 maret 2016. Forum juga dihadiri oleh pengurus IKAMAS (Ikatan Mahasiswa Aceh Selatan) Yogyakarta.

Forum berlangsung tepat pukul 20.00 wib, moderator diskusi M.Mairiska Putra (mahasiswa STTN-BATAN Yogyakarta) membuka acara dengan mendeskripsikan arah pembangunan pantai Barat – Selatan Aceh yang fokus terhadap pembangunan bidang pertanian dan akhir-akhir ini mulai berinovasi dengan mengembangkan sektor pariwisata seperti besarnya iklan terhadap wisata pulau Gosong dan juga eksplorasi hasil alam tambang seperti batu bara, emas, bijih besi, dan lainnya.

Pembicara pertama, Thaifa Herizal, SE membuka dengan pernyataan “belum ada perubahan yang significant di pantai Barat – Selatan Aceh walaupun jalannya sudah sangat modern”. Ungkapan ini muncul akibat kegelisahannya melihat minimnya produksi hasil kreatifitas masyarakat dipasaran. Kekurangan ini akibat oleh beberapa faktor, diantaranya adalah masyarakat kurang kreatif memanfaatkan hasil dan limbah-limbah alam seperti kayu yang sebenarnya bisa dimanfaatkan menjadi produk kreatif. Beberapa produk yang adapun belum berkembang begitu pesat seperti sirup pala dan kue pala yang hanya bisa didapatkan di Aceh Selatan. Hal ini juga didukung oleh kurangnya dorongan pemerintah untuk membangun industri-industri pengolahan komoditi lokal akibat dari orientasi pembangunan hanya untuk proyek tanpa memperdulikan asas manfaat dan asas kualitas proyek tersebut. Selain itu, produk komoditi lokal pantai Barat – Selatan Aceh juga belum terlisensi bahkan tersertifikat sebagai Hak Kekayaan Indikasi Geografis, padahal syarat tersebut merupakan permasalahan perizinan produksi, keterkenalan, kualitas produk, dan minat pasar.

Pembicara kedua, Fadhli Ali, SE membuka dengan kekaguman beliau terhadap Yogyakarta sebagai provinsi kecil yang hasil alamnya kurang, tetapi menjadi kota yang perputaran duit dimasyarakat sangat besar. Di awal pembicaraannya beliau menyatakan “kalau di Aceh, barang itu (menunjuk becak delman kuno didalam cafe Huse of Raminten) akan naik timbangan (ek ceng)”. Sikap pragmatis tersebut menurut beliau karena pemerintah tidak peduli terhadap perkembangan kreatifitas masyarakat untuk berinovasi. Bentuk kepedulian ini dapat diwujudkan dengan merubah mindset masyarakat melalui dunia pendidikan seperti yang nyata di jogja sebagai kota pendidikan dengan jumlah perguruan negri diatas 100 serta kualitas pendidik. Kenyataan wilayah geografis pantai Barat – Selatan Aceh sebagai wilayah tertinggal akibat permasalahan kompleks menghangatkan forum.

Terkait dengan hasil alam, beliau lebih setuju terhadap pembangunan hasil alam yang renewable sebagai hasil yang tidak akan habis. Pertanian dan perkebunan kritiknya akan sangat terjepit seiring berjalannya waktu karena wilayah sawah terkonversi menjadi bangunan baru. Yang benar-banar hasil alam renewable adalah hasil laut pantai Barat Selatan Aceh yang kebetulan peta lautnya bertemu dengan samudra yang luas. Program kemaritiman Indonesia membawa angin segar mengingat wilayah ini berhubungan langsung dengan Asia, benua Afrika, benua Australia. Besar harapan program ini masuk ke wilayah Barat-Selatan Aceh dengan berdirinya pangkalan kapal untuk transportasi laut yang memotong biaya produksi barang. Lalu lintas laut juga akan meningkatkan pariwisata mengingat begitu banyaknya lokasi wisata barat-selatan Aceh.

Menurut beliau, ada beberapa cara untuk mempercepat kemajuan pantai Barat – Selatan Aceh, salah satunya adalah pemekaran provinsi dengan pertimbangan bahwa provinsi Aceh sangat luas sehingga kurang relevan untuk menata pembangunan secara cepat. Solusi lain adalah menyatunya seluruh elemen pantai Barat – Selatan Aceh yang terdiri dari 8 kabupaten/kota dalam melakukan peta pembangunan dan saling bekerjasama.

Acara dilanjutkan pada sesi tanggapan dan tanya jawab, diantaranya yang memberi tanggapan adalah Rahmat Ghifar (mahasiswa Hubungan Internasional UMY) beliau sangat setuju dengan pembangunan ekonomi kreatif mengingat Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) menuntut Indonesia untuk lebih kreatif dalam menciptakan barang yang otentik dan menarik sehingga mampu bersaing dengan negara se Asean bahkan duia. Selanjutnya Abdurrahman As Sayuti (mahasiswa Siyasah UIN-SUKA) menyentuh hal yang berbeda yaitu pengembangan kebudayaan dan pariwisata pantai Barat – Selatan Aceh seharusnya dapat dilaksanakan mengingat untuk menyatukan wilayah Barat – Selatan yang memiliki sekitar 5 suku dan bahasa harus dengan eksplorasi budaya. Terakhir, Nerisa Afwan (mahasiswi Bimbingan dan Konseling UMY) mengajukan pertanyaan terkait arah dan tujuan pasar Modern yang baru dimulai pembangunannya di Abdya. Terkait pertanyaan ini, pembicara tidak bisa memberi jawaban yang pasti dikarenakan proyek pasar Modern tidak tersosilisasi secara massif. Kita berdoa semoga proyek ini dapat selesei dan bisa menjadi warna baru terhadap pembangunan pantai Barat – Selatan Aceh.

Fadhli Ali, SE dan Thaifa Herizal, S.T

Malam semakin larut yang tanpa terasa diskusi formal sudah sampai waktunya. Sebelum diskusi diakhiri, kedua pembicara menitip pesan kepada mahasiswa untuk terus memupuk kecintaan terhadap daerah, terus perkaya wawasan dan keilmuwan, semangat terus dalam menempuh pendidikan karena wilayah Pantai Barat-Selatan Aceh membutuhkan anak muda untuk meneruskan estafet perjuangan.

Komentar
Sedang Loading...
Memuat