HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Sempat Anjlok, Kini Harga Minyak Dunia Naik Tipis

7

HARIANACEH.co.id – Harga minyak dunia bersusah payah naik tipis pada Selasa (Rabu pagi WIB) setelah dua hari sebelumnya mencatat kerugian besar, di tengah peringatan Dana Moneter Internasional (IMF) atas pertumbuhan global yang lambat.

Harga minyak telah jatuh lebih dari lima persen dalam dua hari perdagangan terakhir karena prospek pembatasan produksi oleh produsen-produsen utama meredup.

Minyak mentah Brent North Sea, patokan global, yang diperdagangkan di London untuk pengiriman Juni, berakhir naik 18 sen menjadi USD37,87 per barel. Sementara patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei, bertambah 19 sen menjadi ditutup pada USD35,89 per barel di
perdagangan New York.

AFP melansir, Rabu, 6 April, minyak Brent jatuh ke USD37,27 dan WTI merosot menjadi USD35,24 per barel di awal perdagangan, di tengah harapan yang rendah untuk pembicaraan pembatasan produksi di Doha, Qatar, pada 17 April antara Rusia dan para produsen OPEC untuk memperkuat harga.

Sebagaimana dikutip dari Antara, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde melukiskan sebuah gambar suram untuk perekonomian global dalam sebuah pidato di Frankfurt, mengatakan pertumbuhan masih “terlalu lambat” dan “terlalu rapuh” dan sangat mendesak negara-negara maju untuk meningkatkan upaya stimulus fiskal.

“Secara keseluruhan, prospek global telah melemah selama enam bulan terakhir -diperparah oleh pelambatan relatif Tiongkok, harga komoditas yang lebih rendah, dan prospek pengetatan keuangan di banyak negara,” tutur dia.

IMF waspada, bukan cemas, tutur Lagarde. Ada sedikit tanda meringankan kelebihan pasokan di pasar minyak mentah. Tapi lembaga penelitian Capital Economics mengatakan dalam sebuah catatan klien bahwa terlalu cepat untuk menyerah pada kesepakatan Doha,” menambahkan bahwa kesepakatan yang kompromis masih mungkin sekalipun tanpa partisipasi penuh Iran.

Nawal al-Fezaia, Gubernur OPEC Kuwait mengatakan bahwa negara-negara penghasil minyak utama dapat mencapai kesepakatan untuk membekukan produksi, sekalipun jika Iran tidak bergabung dengan tindakan tersebut.

Produksi minyak mentah Iran telah melonjak sejak Barat mencabut sanksi-sanksi terkait nuklir pada Januari, dan negara, yang telah lama mengurangi pasokannya ke pasar minyak mentah global, telah menegaskan seharusnya tidak menjadi salah satu harus memotong kembali produksinya.

Namun, Mohammad bin Salman Al Saud, wakil putra mahkota Arab Saudi, Jumat lalu, mengisyaratkan keengganan kerajaan itu untuk membekukan produksi kecuali negara-negara lain melakukan hal yang sama.
Sementara para pejabat Iran telah membuat jelas bahwa negaranya tidak akan berpartisipasi dalam pembekuan produksi sampai produksinya berjalan ke tingkat sebelum sanksi internasional diterapkan.

loading...