HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Krisna Murti: Itu Bukan Uang Suap Untuk Sanusi, Tapi Uang Pertemanan

2

HARIANACEH.co.id – Kuasa hukum Mohammad Sanusi, Krisna Murti, membantah keras jika uang yang diterima kliennya merupakan uang suap. Menurut Krisna, uang tersebut dianggap sebagai uang pertemanan.

Menurut Krisna, Sanusi sudah kenal dekat dengan Presiden Direktur PT APL Ariesman Widjaja, yang juga menjadi satu dari tiga tersangka kasus suap tersebut. Ia menilai wajar jika Ariesman memberikan uang kepada Sanusi.

Sebenarnya begini, bahwa Bang Sanusi dan Ariesman kenal sejak 2005. Mereka Sama-sama pengembang, kerja sama di bidang properti, istilahnya ini uang pertemanan. Bukan uang suap,” tegas Krisna di Gedung DPRD DKI Jakarta, Kamis (7/4/2016).

Krisna juga mengatakan bahwa Sanusi ketika tertangkap tangan tidak dalam kapasitasnya menerima uang haram itu. Uang yang diterima Sanusi diklaim tidak ada sangkut pautnya soal pembahasan rancangan peraturan daerah (raperda) soal zonasi dan reklamasi.

“Ini bukan diberikan ke Bang Uci untuk goal-kan raperda. Karena, pada kewenangannya, (Sanusi) tidak membahas raperda itu sendiri,” tutur dia.

Krisna melanjutkan, kewenangan Sanusi sebagai Ketua Komisi D sebetulnya lebih kepada pembahasan hal teknis. Apalagi, latar belakang Sanusi merupakan insinyur dan mantan pengembang.

“Secara teknis untuk membahas tentang peruntukan tuh, menguasai lah Rencana Tata Ruang. Itu bang Uci diajak diskusi dalam hal itu,” tegasnya.

Ucapan Krisna kali ini berbeda dari sebelumnya. Pada kesempatan 2 April lalu, ia membenarkan jika kliennya menerima suap.

Tapi, soal dugaan keterlibatan pihak lain dalam kasus ini, Krisna belum tahu.

“Yang pasti klien kami memang disuap. Inisiatornya swasta. (Tapi) klien kami belum bicara itu (penerima suap lain),” ujarnya kala itu.

Tepat sepekan lalu, Komisi Pemberantasan Korupsi mencokok Sanusi. Sanusi ditangkap saat tengah menerima uang dari seorang karyawan pihak pengembang melalui perantara.

Dari transaksi tersebut, penyidik KPK menemukan barang bukti uang sejumlah Rp1,140 miliar. Uang tersebut diduga untuk menyuap Sanusi.

Uang diduga sebagai suap terkait pembahasan rancangan peraturan daerah tentang rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Provinsi DKI Jakarta 2015-2035. Selain itu, suap juga terkait raperda tentang rencana kawasan tata ruang kawasan strategis pantai Jakarta Utara.

Akhirnya, Sanusi pun dijadikan tersangka penerima suap. Dia disangkakan Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang 39 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah UU 20 Tahun 2001 jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

loading...