HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Inilah 3 Faktor Yang Membentuk Harga Beras

36

HARIANACEH.co.id –  Mengurai masalah beras tidak lah sesederhana yang disampaikan karena bukan sekadar analisis supply demand semata, tetapi mencakup aspek multi dimensi dan sangat kompleks. Faktanya, gejolak harga beras bukan akibat pasokan kurang, tetapi harga dibentuk oleh faktor lain terkait tata niaga. Sehingga, hal itulah yang awam menyebut terjadi anomali pasar pangan.

Berangkat dari sana, Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi mengatakan setidaknya ada tiga hirarki pasar beras, di mana masing-masing dijumpai faktor pembentuk harga berbeda-beda. Mengingat faktor pembentuk harga berbeda-beda maka solusi kebijakan pun berbeda pula. Pertama, pasar di tingkat produsen. Faktor pembentuk harga gabah ditentukan oleh pasokan, sehingga pada saat panen raya harga gabah jatuh dan sebaliknya. Solusi kebijakan Pemerintah sudah tepat yaitu ditetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

“Eksekusi kebijakan saat ini juga sudah tepat yaitu Bulog menyerap gabah langsung ke petani. Dampaknya petani menikmati harga wajar, stok beras terpenuhi dan tata niaga menjadi lebih baik,” jelasSuwandi, dalam siaran persnya, di Jakarta, Minggu (8/5/2016).

Kedua, pasar beras di tingkat konsumen. Uji korelasi, regresi dan lainnya menunjukkan tidak ada hubungan harga beras dengan pasokan. Pembentuk harga beras di eceran atau konsumen bukan faktor pasokan, tetapi faktor lain.

“Yaitu faktor distribusi, sistem logistik, rantai pasok, asimetri informasi, ekspektasi, disparitas harga, struktur maupun perilaku pasar,” tambah dia.

Data harga beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) pada 29 April 2016 berkisar Rp8.000-Rp13.300 per kg, sedangkan harga gabah kering panen (GKP) di petani Rp3.700 per kg setara beras Rp6.491 per kg.

BPS menyebutkan pada Maret 2016, harga GKP di petani turun 9,76 persen dibandingkan Februari 2016. Namun, harga beras di tingkat penggilingan turun 1,84 persen, di pedagang grosir turun 0,44 persen dan di tingkat pedagang eceran turun 0,56 persen.

“Data ini menunjukkan ada disparitas harga yang tinggi dan terjadi anomali sehingga harga di konsumen tidak ditransmisikan dengan baik kepada harga produsen dan sebaliknya,” sebut Suwandi.

Fakta lapangan, kata Suwandi, ketika pasokan beras melimpah, pasokan menjadi determinant faktor pembentuk harga, namun fenomena ini “berskala kecil” dengan durasi “sifatnya sesaat” (instantaneous).

Selanjutnya, sekali pun pasokan melimpah, tetapi jika dikuasai segelintir pelaku, maka harga akan dideterminasi pemegang stok dominan. Ketika impor daging dibuka dengan maksud agar pasokan di pasar melimpah, ternyata harga daging tetap melambung, karena pasokan dikuasai pemegang stok dominan.

Hirarki ketiga, pasar beras internasional. Pembentuk harga bukan ditentukan ekonomi supply demand semata, melainkan aspek lebih yang luas, konsumsi dan produksi global, kondisi iklim, ekonomi global, harga energi, nilai tukar mata uang, termasuk food security.

Fakta di lapangan pada 13 Desember 2015, harga beras di pasar tradisional Cho Tanh Dinh, Kota Ho Chi Minh, Vietnam tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Ironisnya Vietnam mengekspor beras dengan harga yang jauh lebih murah, sehingga menjadi tanda tanya, ada apa dengan beras vietnam tersebut.

“Oleh sebab itu, kami berharap agar lebih berhati-hati berkomentar di media tanpa didukung data dan argumentasi yang tepat karena akan menyesatkan publik,” harap Suwandi.

Komentar
Sedang Loading...
Memuat