HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Dua Anggota Detasemen Khusus 88 Mengajukan Banding

11

HARIANACEH.co.id – Dua anggota Detasemen Khusus 88, AKBP T dan
Ipda H mengajukan banding setelah menerima hasil putusan sidang etik yang digelar
Divisi Propam Polri. Dalam sidang itu, keduanya diputus bersalah lantaran telah melanggar Standard Operating Procedures (SOP) saat mengawal terduga teroris,
Siyono.

“Keduanya menyampaikan banding karena keberatan atas putusan sidang,” kata
Kadivhumas Polri Brigjen Pol. Boy Rafli Amar di Jakarta, Rabu (11/5/2016) malam.
Boy mengatakan upaya banding keduanya akan diproses.  Sidang etik menjatuhkan sanksi berupa demosi tidak percaya kepada AKBP T dan Ipda
H. Dalam putusan sidang itu, keduanya juga diwajibkan meminta maaf kepada institusi kepolisian. “Itu sudah dilakukan,” ucap Boy.

Setelah didemosi tidak percaya, maka keduanya tidak lagi bertugas di Densus 88.
Mereka akan dipindahkan ke satuan kerja lain. “Dipindahkan ke satker lain dalam
waktu minimal empat tahun,” ujar dia.

Saat ditanya terkait dengan satuan yang akan ditempati oleh kedua polisi
tersebut, Boy mengatakan hal itu belum ditentukan.

“Itu nanti diproses di Wanjak (Dewan Jabatan dan Kepangkatan),” kata mantan
Kapolda Banten itu.

Sidang kode etik profesi terkait dengan kasus kematian terduga teroris Siyono digelar sejak Selasa 19 April 2016 dan berlangsung secara tertutup. Sidang tersebut bertujuan menentukan adanya kemungkinan pelanggaran prosedur oleh anggota Densus 88 Antiteror Polri yang melaksanakan tugas pengawalan terhadap Siyono.

Terduga teroris Siyono, warga Dukuh, Desa Pogung, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, setelah ditangkap oleh Densus 88 Mabes Polri dikabarkan meninggal dunia ketika dalam pengawalan Densus 88 pada Jumat 11 Maret. Pihak keluarga, terutama istri Siyono, Suratmi, meminta keadilan terkait dengan kematian suaminya.

Komentar
Sedang Loading...
Memuat