HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Jika Pelaku Mengulangi Perbuatannya Maka Diberlakukan Kebiri

3

HARIANACEH.co.id – Sanksi kebiri tidak diberikan kepada semua pelaku kejahatan seksual. Sanksi itu hanya menyasar pelaku yang terbukti mengulangi perbuatannya.

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly mengatakan, ada beberapa pertimbangan untuk menjatuhkan hukuman kebiri kepada pelaku. “Dia (sifatnya) hanya hukuman tambahan dan dilihat faktanya,” kata Yasonna, Kamis (12/5/2016).

Yasonna mengatakan, hukuman kebiri tak akan dipukul rata untuk pelaku kekerasan seksual yang terbukti bersalah.  Tambahan hukuman kebiri baru diberikan jika pelaku melakukan kejahatan seksual itu berulang. “Tindakan kebiri diambil melalui kebiri medis,” kata Yasonna.

Presiden Joko Widodo, kata Yasonna, telah memberikan arahan yang jelas tentang kebutuhan ini. Perppu akan mengatur secara gamblang perlindungan anak dari kejahatan seksual.

Menurut Yasonna, anak-anak sedari dini perlu diberikan pendampingan secara psikologis mengenai hal-hal yang dianggap mengancam dan berpotensi menimbulkan kekerasan seksual. Pendampingan juga perlu dilakukan pada pelaku yang masih di bawah umur.

“Terapi kejiwaan, terapi medis harus dilakukan. Bukan kebiri untuk anak-anak, pas keluar terapi juga didampingi supaya tidak jadi persoalan,” kata Yasonna.

SOLIDARITAS UNTUK YY
Aksi solidaritas untuk Yuyun. Antara.Rosa Pangabean

Pemerintah sepakat menambah hukuman berat pada pelaku kejahatan seksual. Sanksi itu diatur dalam Perppu. Ada empat hukuman tambahan, antara lain hukuman mati dan sanksi kebiri.

Hukuman mati diberikan kepada pelaku bila korban mendapat trauma dan menimbulkan kematian. Sementara sanksi kebiri diberikan khusus bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak yang sudah mendapat vonis pengadilan.

Tambahan hukuman ketiga, yaitu penggunaan gelang berchip khusus, bagi pelaku setelah keluar dari penjara. Gelang itu nantinya menjadi alat pendeteksi keberadaan pelaku dan dikoordinir kepolisian.

Terakhir, identitas para pelaku akan dipajang di ruang publik. Tujuannya, selain memberikan efek jera, juga akan membuat masyarakat lebih waspada.

Kasus ini mendapat perhatian publik secara nasional maupun internasional. Banyak pihak meminta pelaku diberi hukuman maksimal. Sayangnya, tujuh pelaku masih di bawah umur. Mereka hanya divonis 10 tahun penjara.

Beberapa pihak menyesalkan rendahnya hukuman itu. Namun dari perspektif perjuangan perlindungan anak, hukuman itu di luar batas maksimal yang hanya tujuh tahun.

Tak lama berselang, kasus kekerasan seksual terhadap anak kembali muncul menimpa remaja di Manado. Kasus lain di beberapa daerah pun muncul setelah dua kasus ini mencuat.

Hukuman kebiri menjadi salah satu opsi. Pemerintah diminta segera menerbitkan Perppu Kebiri agar memberi efek jera. Hingga saat ini, baik Perppu maupun UU soal kejahatan seksual belum terwujud.

loading...