HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Tetapkan Jessica Tersangka, Polisi Dituding Gegabah

10

HARIANACEH.co.id – Polda Metro Jaya dituding gegabah dan terburu-buru menetapkan Jessica Kumala Wongso sebagai tersangka kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin. Padahal polisi belum memiliki bukti kuat. Akibatnya hingga 104 hari di tahanan berkas Jessica belum lengkap (P21).

Pengacara Jessica Andi Joesoef mengatakan, seharusnya sejak awal polisi tidak perlu menahan kliennya. Dia bilang, polisi fokus saja mencari alat bukti yang menguatkan Jessica pembunuh Mirna.

“Seharusnya tidak ditahan sampai 120 hari. Berkasnya saja berulangkali ditolak, kekurangan bukti, kejaksaan kan butuh bukti yang kuat,” kata Andi, Jumat (13/5/2016).

Andi berharap polisi bertindak wajar, objektif dan sportif.  Polisi sudah bertindak wajar melakukan penyidikan untuk mengungkap kasus kematian misterius Mirna. Namun, dalam menjalankan tugas polisi harus objektif, bukan menjustifikasi Jessica pembunuh Mirna.

“Dari awal Jessica sudah disebut-sebut, berulang-ulang dianggap pembunuh Mirna, tendensius sekali,” ujar Andi.

REKONSTRUKSI KASUS KEMATIAN MIRN
Polisi melakukan rekonstruksi kasus pembunuhna Mirna- Antara.

Terkait adanya alat bukti yang diperoleh penyidik Polda Metro Jaya dari kepolisian Australia, menurut Andi tidak ada korelasinya dengan kematian Mirna. Dia bilang, kejadian perkara berada di Jakarta, bukan di Australia.

“Locus (tempat kejadian perkara) di Jakarta. Alat-alat bukti dari Australia apa korelasinya? Dari awal polisi memang gegabah menetapkan Jessica sebagai tersangka,” katanya.

Berkas perkara Jessica Kumala Wongso hingga kini belum bisa dijadikan dakwaan. Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta menilai berkas penyidikan dianggap belum lengkap. Setidaknya berkas tiga kali dikembalikan jaksa pemeriksa kepada penyidik Polda Metro Jaya.

Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi DKI Waluyo menyatakan tak mudah meloloskan berkas perkara, termasuk berkas Jessica. Sebab, jaksa yang nantinya akan bertanggung jawab soal kelanjutan hukum Jessica di pengadilan.

Kejati DKI tak mau berjudi dengan melimpahkan Jessica ke pengadilan, sementara berkasnya belum sempurna. Maka dari itu, kata Waluyo, jaksa meneliti benar berkas Jessica matang. Agar matang, berkas mesti dilengkapi penyidik. Itulah mengapa berkas kerap dikembalikan ke penyidik Polri.‎

Kapolda Metro Jaya Irjen Moechgiyarto. MTVN-Arga Sumantri
Kapolda Metro Jaya Irjen Moechgiyarto. MTVN-Arga Sumantri

Polda Metro Jaya sempat menyayangkan bolak-baliknya berkas perkara Jessica. Menurut Kapolda Metro Jaya Irjen Moechgiyarto mestinya hakim yang memutuskan soal nasib hukum Jessica.

Menurut Moechgiyarto, sistem peradilan pidana di Indonesia sebenarnya tidak ada kewajiban penyidik mencari dua alat bukti yang cukup. Penyidik, kata Moechgiyarto, hanya perlu mengumpulkan sebanyak mungkin bukti dan menaikkan kasus ke tingkat pengadilan.

“Kalau menganut UU Nomor 8 Tahun 1981 tentang KUHAP, tidak ada kewajiban penyidik mencari dua alat bukti, itu tidak ada,” ujarny Moechgiyarto.

Jessica Kumala Wongso, tersangka kasus kematian Wayan Mirna Salihin sudah mendekam di tahanan selama 104 hari sejak ditahan pada 30 Januari 2016. Jika berkas tak kunjung lengkap hingga 120 masa tahanan, Jessica dapat bebas demi hukum.

Mirna meninggal usai meminum es kopi Vietnam di Kafe Olivier, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu 6 Januari. Hasil uji di laboratorium Polri diketahui lambung Mirna mengandung zat sianida.

Mirna diduga dibunuh. Saat di Kafe Olivier, Mirna bersama dua temannya saat kuliah di Australia, Jessica dan Hani. Polisi kemudian menetapkan Jessica sebagai tersangka pada 29 Januari.

loading...
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time