HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Hari Buku Nasional: Mari Bercerita Untuk Anak-anak

29

Oleh: Indah Wijaya Antasari, S.Sos[1. Pustakawan  IAIN Purwokerto, kontributor buku-buku kepustakawanan, penulis beberapa majalah perpustakaan]

HARIANACEH.co.id – Storytelling adalah interaktif, pendengar mendengarkan cerita yang disampaikan, kemudian biarkan ceritanya dinikmati pendengarnya. (Aaron Shepard, dalam www.Aaronshep.com/-storytelling). Metode storytelling atau mendongeng adalah salah satu metode untuk meningkatkan  kemampuan  pemahaman. Karena melalui storytelling, anak/siswa dapat lebih mudah memahami isi pelajaran yang disampaikan oleh guru/orangtua. Akan lebih baik lagi jika kemudian siswa/anak diberi tugas untuk menyampaikannya kembali dengan bahasa mereka, sehingga pendengar dapat menjadi penyampai cerita. Hal ini dapat meningkatkan kemampuan berbicara para siswa/anak dan melatih keberanian berbicara di depan publik.

MEDIA BERCERITA

Sebagian orang  memanfaatkan media dalam menuangkan ide, buah pikiran, atau pesan, ke dalam ringkasan sebuah cerita, diantaranya media visual. Ada dua kata yang terkandung dalam visual storytelling, yaitu visual dan storytelling.Visual adalah segala hal yang berhubungan dengan penglihatan, artinya dapat dilihat. Sedangkan storytelling/bercerita adalah cara yang dilakukan untuk menyampaikan suatu cerita kepada audien, baik dalam bentuk kata-kata, foto, gambar maupun suara.

Pengertian Visual Storytelling adalah cara menyampaikan suatu cerita kepada audience dalam bentuk media visual. Istilah gampangnya, “ Biarkan gambar atau foto berbicara “. Ibarat sebuah gambar, terdiri dari 1000 kata.

Menurut John Berger, 1982, gambar  mempunyai sejumlah  kekuatan, diantaranya:

  1. Seeing comes before words. The child looks and recognizes before it can speak.
  2. It is seeing which establishes our place in the surrounding world
  3. The relation between what we see and what we know is never settled.

(anak dapat melihat sebelum dapat berbicara, dapat menjelaskan lingkungan sekitar, menghubungkan apa yg dilihat dengan yg diketahui)

Hanya melihat sebuah gambar atau foto, seseorang telah mampu merangkai ribuan kata, secara jelas tentang apa yang mau diceritakan. Tanpa mesti dijelaskan secara lisan terlebih dahulu, gambar telah bercerita kepada yang melihatnya.

Knut Lundby, 2008 dalam bukunya Digital Storytelling mengartikan sebagai “ small-scale as a media form, short just few minute long, made with off-the-shelf equetment and technique. The production are not expensive, for example, be zooming of still picture rather than moving image. The story centring the narrator’s own, personal life and experience and usually told in his or her own voice”. Story telling dalam era digital menemukan bentuk baru dalam skala yang kecil, berdurasi pendek dibuat dengan teknik yang sederhana dengan biaya murah, yang menyangkut pengalaman hidup seseorang yang diceritakan dengan narasi dan menggunakan suara yang bersangkutan.

Kelebihan metode storytelling/bercerita antara lain:

  • Lebih mudah dan praktis

Penyampaian storytelling (bercerita) mudah dilakukan sesuai dengan media yang dimiliki, atau dapat menggunakan barang-barang disekitarnya sebagai pendukung cerita. Misalkan menggunakan penggaris, sapu, atau jika memungkinkan menggunakan audio visual akan lebih mudah karena hanya mengoperasikan saja.

  • Lebih murah

Yang dimaksud murah disini, metode bercerita dapat dilakukan jika tanpa alat bantu berupa barang sekalipun. Seperti halnya ketika kita melaksanakan kegiatan di lapangan atau di tempat yang tidak mendapat sambungan listrik, maka tetap dapat dilakukan storytelling. Bahkan santri dapat dilibatkan dalam cerita tersebut dengan bermain peran misalnya.

  • Disukai anak-anak

Umumnya anak-anak menyukai cerita. Hal ini juga yang telah dilakukan oleh nenek moyang kita dalam menyampaikan pesan-pesan yang mengandung pelajaran kepada anak cucunya.

  • Materi mudah diserap

Ketika anak menyukai cerita, maka ia akan memperhatikan dengan seksama dan mereka akan mengingat cerita tersebut dalam waktu yang lama. Seperti kita ketahui cerita Malinkundang, Sangkuriang, dll begitu lekat dibenak orang tua kita, padahal zaman dahulu belum banyak yang bisa baca tulis . Karena hanya disampaikan dari mulut ke mulut, maka kita tidak pernah tahu pengarang aslinya.

PERAN ORANG TUA DAN GURU

Sebagai penyampai cerita (storyteller), baik guru maupun orang tua harus menguasai metode bercerita yang cocok untuk siswa/anak nya. Apakah siswa/anak lebih menyukai cerita kepahlawanan, cerita binatang-binatang (fabel), cerita berlatar ilmu pengetahuan (seperti asal-usul terbentuknya bumi, dll). Pemilihan topik cerita yang sesuai akan menimbulkan rasa ingin tahu anak muncul dan anak akan semakin penasaran dengan topik tersebut, hal ini dapat memacu anak mencari sumber bacaan.

Orang tua dan guru hendaknya bekerjasama untuk saling mendukung. Jika anak sedang malas mengerjakan PRnya, bisa saja guru di sekolah memberikan cerita tentang “Si Malas dan Si Rajin” agar anak dapat menangkap hikmah dari cerita itu. Agar anak/siswa dapat mengambil pelajaran baik dari sebuah cerita, maka di akhir cerita dapat diberikan kesimpulan (misalnya; anak yang rajin akan lebih bermanfaat dan bahagia disbanding anak pemalas, orang yang bersungguh-sungguh akan menemui hasil yang baik, dll). Dapat juga siswa/anak ditanya dan ikut dalam cerita yang dibawakan, sehingga mereka memberikan kesimpulannya. Namun jangan sampai anak mempunyai kesimpulan yang keliru, disini peran orang tua dan guru sangat besar untuk mengarahkan.

PENUTUP

Pada akhirnya kita mengharapkan anak-anak Indonesia cinta membaca, haus ilmu pengetahuan dan berfikiran maju. Salah satunya dengan cara membiasakan bercerita kepada anak/siswa. Smoga minat baca anak Indonesia juga meningkat, yang berdampak pada meningkatnya kualitas SDM di masa depan. Selamat hari buku Nasional 2016, Majulah Indonesiaku!

Komentar
Sedang Loading...
Memuat