HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Pemerkosa 58 Anak Didesak Fahira Idris Dihukum Paling Berat

2

HARIANACEH.co.id – Wakil Ketua Komite III Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Fahira Idris mengutuk keras kasus perkosaan terhadap 58 anak oleh seorang pengusaha di Kediri, Jawa Timur. Kasus itu semakin menambah daftar panjang kasus kekerasan seksual terhadap anak.

Fahira mengategorikan kasus itu sebagai kejahatan kemanusiaan. Lantaran, kata Fahira, selain melakukan perkosaan, pelaku juga mengancam keselamatan korban dan keluarga jika mengadukan perbuatan bejadnya. Pelaku juga menindas secara psikis para korban. “Ini sudah pelanggaran HAM berat, kejahatan kemanusian. Kalau nanti terbukti dan hukuman bagi pelaku biasa-biasa saja, berarti ada yang salah dengan Republik ini,” kata Fahira saat menghadiri konperensi pers Tim Masyarakat Peduli Kediri (TMPK) di Jakarta, Senin (16/5/2016).

Perbuatan pelaku tak bisa dibiarkan. Menurut Fahira, apa yang dilakukan pemerkosa anak ini sudah melecehkan negara karena dilakukan dengan mudah, dan berulang-ulang. Cara pemerkosa beraksi, kata Fahira juga tergolong biadab. Lantaran sebelum disetubuhi, setiap anak dipaksa memakan obat yang memberi efek pusing, mual, gemetar sampai dengan pingsan. Pelaku juga mencabuli dua sampai tiga korban secara bergantian di dalam satu kamar.

Apalagi, Fahira bilang korban dan keluarganya yang hendak melapor juga diduga diancam keselamatannya oleh pelaku. Bahkan, banyak korban yang putus asa dan putus sekolah.

“Pelaku menganggap karena kekuasaan dan uangnya, hukum tidak akan bisa menyentuhnya. Ini sudah melecehkan negara. Andai ada hukuman yang lebih berat dari hukuman mati, orang kayak gini pantas menerimanya. Saya lebih memilih HAM pemerkosa-pemerkosa anak seperti ini yang dilanggar demi keselamatan anak-anak kita,” beber Fahira.

Fahira mendesak polisi, jaksa dan hakim yang menangani kasus itu berani membuat terobosan hukum dalam mengadili pelaku pemerkosaan anak. Dia ingin hanya ada opsi hukuman mati dan paling ringan hukuman seumur hidup bagai pemerkosa 58 anak di kediri itu. Polri, Kejaksaan Agung, dan Mahkamah Agung, termasuk Komisi Yudisial juga harus terus memonitor dan mengawasi kasus tersebut.

“Kasus ini sudah jadi perhatian nasional, jadi dalam prosesnya harus transparan dan memenuhi rasa keadilan. Buat terobosan, gunakan pasal berlapis, beri tafsir lain terhadap kasus ini yang mengutamakan korban. Kita tidak ingin dengar lagi putusan hakim yang biasa-biasa saja,” ujar dia.

Tidak hanya itu, Fahira juga berharap Kementerian dan komisi terkait untuk secepatnya memberikan konseling, pelayanan dan bantuan medis, bantuan hukum, serta rehabilitasi kepada korban dan keluarga.

loading...