HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Rotasi Pejabat Bandara Dilakukan Dirjen Perhubungan Udara

5

HARIANACEH.co.id –  Direktorat Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan merotasi Kepala Otoritas Bandara. Rotasi tersebut terkait dengan kesalahan prosedur layanan antarjemput penumpang dan bagasi (ground handling) Lion Air di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Air Asia di Bandara Ngurah Rai Bali.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Suprasetyo menjelaskan, rotasi dilakukan karena pihak dari Kemenhub yang ada di bandara dianggap sudah lalai dengan tidak menginfokan peristiwa tersebut ke Ditjen Perhubungan Udara. Sehingga peristiwa tersebut terlebih dulu ramai diperbincangkan di media sosial.

“Otoritas bandara tidak dapat informasi apapaun baik dari maskapai, ground handling, imigrasi, bea cukai dan karantina. Kemudian sanksi sudah dijatuhkan kepada aparat kami di Kemenhub,” kata Suprasetyo, Kamis (19/5/2016).

Akhirnya, Ditjen Perhubungan Udara memutuskan untuk segera merotasi Kepala Otoritas Bandara. “Jadi sudah rotasi pejabat dari Kepala Otoritas Bandara wilayah satu, tadi dirotasi, diganti dengan yang lain,” lanjut pria yang dipanggil Pras itu.

Selain pejabat internal dari Kemenhub, sanksi juga diterapkan pada kedua maskapai. Ditjen Perhubungan Udara menerbitkan surat pembekuan ground handling pada 17 Mei. Sanksi dijatuhkan berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 56 Tahun 2015 tentang Kegiatan Pengusahaan di Bandar Udara.

Bahkan, kata Pras, sebenarnya maskapai sudah bisa dicabut izinnya karena kesalahan tersebut sudah membahayakan keamanan negara.

“Ini kan sudah membahayakan keamanan nasional, itu sudah bisa saya cabut tanpa peringatan maupun pembekuan sementara. Tapi kami beri waktu tujuh hari kalender untuk cari gantinya ground handling sambil kami investigasi,” jelas Pras.

Di samping investigasi yang dilakukan maskapai, Ditjen Perhubungan Darat juga membuat tim investigasi untuk memastikan apakah kesalahan tersebut karena kesengajaan atau kelalaian. “Invest ini timnya dari bea cukai, imigrasi, karantina dan Kemenhub,” papar Pras.

Seperti diketahui, pada 10 Mei 2016 malam Pesawat Lion Air JT161 dari Singapura terparkir di R51 Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Saat bersamaan, terdapat pesawat Lion Air lain yang juga baru mendarat dari Padang terparkir di R56. Namun, bus penjemput penumpang membawa penumpang Lion Air JT161 menuju Terminal 1. Padahal seharusnya kedatangan internasional diantarkan ke Terminal 2. Akibatnya, sejumlah penumpang internasional tidak melewati proses imigrasi.

Tak sampai sepekan, kesalahan itu terulang. Pesawat QZ509 dari Singapura mendarat di Bali pada 16 Mei 2016 malam. 47 penumpang yang turun lebih awal dibawa ke ke terminal domestik oleh bus antarjemput.

loading...