HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Kenali Kanker Nesofaring Serta Gejalanya

11

HARIANACEH.co.id — Karsinoma Nasofaring (KNF) atau kanker nasofaring menempati urutan keempat, untuk kategori kanker yang paling banyak diderita penduduk Indonesia setelah kanker rahim, payudara, dan paru-paru.

KNF adalah keganasan yang muncul pada area nasofaring, organ yang terletak di atas tenggorokan dan belakang hidung.

Salah satu penyebab kanker ini adalah virus Epstein-Barr, yaitu virus yang hidup di daerah mulut dan nasofaring yang mampu meningkatkan antibodi, genom virus pada sel tumor.

Dari segi internal, KNF disebabkan oleh beberapa kebiasaan, seperti menghirup asap, entah itu asap rokok atau asap memasak.

Paparan bahan kimia industri akibat tuntutan pekerjaan seperti peleburan besi formaldehida dan serbuk kayu juga bisa menjadi pemicu terjadinya kanker ini.

“Ada empat golongan gejala yang biasanya dialami penderita KNF, yakni pada pada hidung, telinga, mata dan saraf, serta leher,” ujar Dr. dr. Cita Herawati, SpTHT-KL, Spesialis Telinga Hidung Tenggorokan Bedah Kepala Leher RS Kanker Dharmais.

Pada hidung, gejala yang muncul adalah mimisan ringan sampai berat, terasa sumbatan di hidung, dan durasi pilek yang cukup lama sehingga sering disalah artikan sebagai sinusitis.

Pada telinga, gejala yang dirasakan seperti tersumbat, dengung (tinitus), bahkan sering ada rasa nyeri (otalgia) karena adanya tumor di daerah tuba eustachius yang merupakan organ pada telinga tengah, yang menghubungkan rongga telinga tengah dengan nesofaring.

Penderita KNF juga akan merasakan gangguan pada saraf dan mata karena tumor mulai masuk kedalam lubang-lubang tengkorak yang banyak dilalui saraf dan menyebabkan saraf terjepit. Kedua lubang itu adalah foramen laserum yang mengakibatkan penglihatan ganda, serta rasa nyeri pada sekitar pipi. Akibatnya, penderita mengalami gangguan menelan, berbicara, dan mengalami gangguan pada otot sekitar bahu dan leher (terasa melemah atau disebut dengan sindrom Jackson).

Pada leher, ciri utama KNF ditandai dengan adanya benjolan di leher, baik di satu sisi maupun keduanya.

Ada tiga jenis pengobatan untuk KNF berdasarkan jenis, sifat, dan stadiumnnya, yaitu tindakan operasi, penyinaran (radiasi), dan pengobatan sistemik. Pengobatan sistemik yakni dengan pemberian obat kanker, berupa suntikan melalui pembuluh darah vena (intravena) maupun arteri (intraarteri) di bawah kulit, atau pemberian obat minum.

Pengobatan sistemik bertujuan membunuh sel kanker yang berada dalam tubuh yang telah terkena. Pengobatan sistemik dapat berupa kemoterapi, terapi target dan terapi hormonal yang diberikan oleh dokter spesialis onkologi.

Terapi untuk KNF sendiri dapat mencakup radiasi, kemoterapi, maupun kombinasi yang didukung dengan obat-obatan simptomati, yaitu obat yang bisa mengurangi efek samping dari pengobatan seperti mual, nyeri saat aktivitas mulut, nausea, maupun aneroksia.

Komentar
Sedang Loading...
Memuat