HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Ahmad Moshaddeq Ditangkap, Eks Gafatar Harus Direhabilitasi

8

HARIANACEH.co.idBareskrim Mabes Polri menangkap pimpinan Al-Qiyadah Al-Islamiyah Ahmad Moshaddeq/Musaddeq/Musadek alias Abdussalam, Rabu 25 Mei malam. Musadek ditangkap bersama pimpinan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), Mahful Muis Tumanurung dan Andri Cahya.

Penangkapan ‘Nabi’ Gafatar atas tuduhan penistaan agama bahkan berencana melakukan gerakan makar dengan membangun negara Gafatar harus ditindak sesuai aturan. Pengadilan harus mencari pasal-pasal yang menarget ajaran Gafatar yang dianggap menyimpang.

“Kita harus buktikan, kita harus perlakukan dengan adil. Terutama anggota-anggota Gafatar harus mendapat pembinaan karena mereka itu lebih pada korban menurut saya,” tegas Wakil Ketua DPR Fadli Zon di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (26/5/2016).

Keadilan bagi pimpinan Gafatar akan dibuktikan di pengadilan. Apabila terbukti menyimpang, Musadek dan pimpinan lain harus bertanggung jawab.

Namun, Fadli menekankan pada keadilan bagi anggota yang terjebak dalam kelompok semacam ini. Anggota, tegas Fadli, hanyalah orang-orang yang tidak berdosa dan kurang informasi sehingga bergabung. Anggota bahkan terpaksa menghabiskan harta dan hijrah ke daerah lain demi Gafatar.

Spanduk penolakan terhadap Gafatar, (ANT-Sheravim)
Spanduk penolakan terhadap Gafatar, (ANT-Sheravim)

Pemerintah harus turun tangan merehabilitasi mereka. “Kita berharap mereka kembali ke jalan yang benar. (Pemerintah harus) melakukan pembinaan terhadap (eks) anggota Gafatar karena mereka itu menjadi korban,” jelas Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini.

Sebelumnya, Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Agus Andrianto mengatakan ketiganya ditahan Rabu 25 Mei sekitar pukul 19.30 WIB. Polisi meringkus Musadek setelah mendapat laporan dari masyarakat bernama Muhammad Tahir Mahmud.

“Muhammad melaporkan Musadek ke Bareskrim pada 14 Januari 2016 atas kasus penistaan agama,” kata Agus saat dihubungi, Jakarta, Kamis (26/5/2016).

Setelah mendapatkan laporan, polisi menggelar penyelidikan di enam provinsi, yakni Jawa Tengah, Jogjakarta, Jakarta, Banten, Kalimantan Barat, dan Jawa Barat. Sebanyak 52 saksi dimintai keterangan.

Ahmad Musadek terancam Pasal 155 huruf a dan Pasal 156 huruf b tentang Penodaan Agama dengan tuntutan maksimal lima tahun penjara. Sementara itu, Andri Cahya dan Mahful Muis Tamanurung dijerat Pasal 110 ayat 1, Jo 107 ayat 1 dan 2 dengan ancaman hukuman seumur hidup atau 20 tahun.

loading...