HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Jadi Eksekutor Kebiri Kimia, IDI Menolak

5

HARIANACEH.co.id — Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menolak menjadi eksekutor hukuman kebiri kimia. Selama ini profesi dokter erat dikaitkan dengan pelaksanaan sanksi tambahan bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak tersebut.

Ketua Umum IDI Oetama Marsis mengatakan selain melanggar Kode Etik Kedokteran Indonesia, dokter sebagai eksekutor kebiri kimia juga bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Marsis sepakat kejahatan seksual anak merupakan kejahatan luar biasa.

“Kami setuju hukuman pokok yang seberat-beratnya. Tapi dalam pelaksanaan kebiri, jangan libatkan kami (dokter) sebagai eksekutor,” ujar Marsis dalam jumpa pers menyikapi Perppu Kebiri di Kantor Pengurus Besar IDI, Jakarta, Kamis (9/6/2016).

Seperti diberitakan, Presiden Joko Widodo menerbitkan Perppu mengenai hukuman tambahan bagi pelaku kejahatan seksual. Perppu Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua UU 23 Tahun 2002 ini segera dikirim ke DPR untuk disahkan.

Perppu akan mengatur pemberatan pidana, hukuman kebiri, pemasangan alat deteksi, dan pengumuman identitas pelaku kejahatan seksual ke publik. Jokowi memberi catatan mengenai pemberatan pidana berupa penambahan hukuman sepertiga dari ancaman pidana.

Perppu ini muncul setelah kasus pemerkosaan yang berujung kematian menyeruak publik. Salah satu yang digegerkan adalah kasus pemerkosaan yang menimpa YY di Bengkulu yang nyawanya dihabisi setelah diperkosa oleh 14 pelaku.

Oetama Marsis mengusulkan sebelum Perppu No.1/2016 tentang Perubahan Kedua Atas UU No.23/2002 tentang Perlindungan Anak dijadikan sebagai UU perlu ada pembahasan mengenai pelaksana eksekusi. Pelaksana itu bukan dokter yang anggota IDI.

loading...