HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Seorang Ibu Tega Bakar Anaknya Sendiri Setelah Menikah

9

HARIANACEH.co.id — Seorang perempuan di Pakistan dibakar ibunya sendiri karena menikah tanpa mendapatkan restu orangtua. Ini merupakan kasus ketiga dalam sebulan terakhir di Pakistan, di mana aksi kekerasan terhadap wanita terkait aturan konservatif pernikahan adalah hal biasa.

Kepolisian kota Lahore melihat adanya tanda-tanda kekerasan dari jasad Zeenat Rafiq. Diduga kuat korban disiksa terlebih dahulu sebelum disiram bensin dan dibakar. Ibu korban, Parveen, diduga memancing anaknya pulang dari rumah mertua.

Pekan lalu, seorang wanita muda yang berprofesi sebagai guru di Pakistan, Maria Sadaqat, dibakar karena menolak lamaran pernikahan. Dia meninggal dunia akibat luka bakar.

Satu bulan sebelumnya, beberapa tokoh desa di dekat Abbottabad memerintahkan pembunuhan terhadap seorang gadis remaja karena dirinya membantu teman melakukan kawin lari.

Aparat di Lahore mengatakan kepada BBC Urdu, Kamis (9/6/2016), bahwa terdapat tanda-tanda penyiksaan dan pencekikan dari tubuh Rafiq. Visum diperlukan untuk menentukan apakah korban masih hidup saat dibakar.

Polisi senior Ibadat Nisar mengatakan pihaknya sedang mencari kakak korban “yang melarikan diri.” Sementara ibu korban ditemukan di rumah bersama jasad anaknya.

“Ibu korban mengakui kejahatannya, tapi kami tidak percaya wanita berumur 50 tahun itu melakukannya seorang diri tanpa bantuan anggota keluarga lain,” tutur Nisar.

Sejumlah tetangga korban menghubungi polisi setelah mendengar suara jeritan. Namun Rafiq sudah tewas saat polisi tiba ke lokasi.

Rafiq dan suaminya, Hassan Khan, menikah pekan lalu di pengadilan agama setelah kawin lari. Rafiq kemudian tinggal bersama keluarga Khan.

Hassan Khan memperlihatkan foto Zeenat Rafiq
Hassan Khan memperlihatkan foto Zeenat Rafiq, (AFP/STR)

“Saat dia bilang mengenai hubungan kami ke orangtuanya, mereka memukuli dia dengan brutal, hingga berdarah dari mulut dan hidung,” ujar Khan.

“Keluarga dia memancing dia kembali pulang, menjanjikan adanya rekonsiliasi dan resepsi pernikahan. Dia takut, dan berkata ‘keluarga saya tidak mungkin akan memaafkan saya.’ Dia tidak mau pergi, tapi keluarga saya meyakinkannya. Bagaimana keluarga saya tahu keluarga dia akan membunuhnya seperti itu.”

Komentar
Sedang Loading...
Memuat