HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Ajukan Tito Karnavian Calon Tunggal Kapolri, Inilah Alasan Presiden

7

HARIANACEH.co.idPresiden Joko Widodo mengajukan Komjen Tito Karnavian sebagai calon tunggal kapolri. Presiden melihat prestasi Tito selama berkarier di Kepolisian sangat baik.

Presiden berharap, kualitas Tito mampu meningkatkan profesionalitas Polri baik menangani kejahatan atau bersinergi dengan lembaga penegak hukum lain.

“Untuk memperbaiki kualitas penegakan hukum terutama terhadap kejahatan luar biasa seperti terorisme, narkoba, maupun korupsi,” kata Juru Bicara Kepresidenan Johan Budi di Kantor Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Rabu (14/6/2016).

“Pertimbangan lain Presiden dalam memilih Tito Karnavian adalah untuk meningkatkan profesionalisme Polri dan juga meningkatkan sinergi dengan penegak hukum lain,” tutur Johan.

Johan mengakui Kompolnas tidak hanya mengajukan nama Tito sebagai calon kapolri ke Presiden. Sumber Media Indonesia menyebut ada nama Wakapolri Komjen Budi Gunawan, Kepala BNN Komjen Budi Waseso, dan Komjen Inspektur Pengawasan Umum Polri Dwi Priyatno.

Namun, Presiden memilih Tito berdasarkan banyak pertimbangan. Artinya, menurut Johan, penujukkan Tito bukan semata kehendak Presiden, karena ada banyak nama yang masuk ke Presiden.

“Itu (Tito) salah satu nama yang diajukan Kompolnas,” tandasnya.

Komjen Tito Karnavian merupakan mantan Kapolda Metro Jaya. Belum setahun menjabat Kapolda, Tito mendapat promosi dan ditunjuk sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Bersinggungan dengan terorisme bukanlah hal baru bagi Tito. Ia sempat bergabung dengan tim yang berhasil membongkar jaringan teroris pimpinan Noordin Moch Top. Ia didapuk menjadi Kepala Densus 88 Antiteror Mabes Polri karena prestasinya itu.

Prestasi lain Tito juga tak bisa dipandang sebelah mata. Tito menjadi lulusan Akpol 1987 pertama yang telah mampu menembus pangkat jenderal bintang tiga.

Tito termasuk polisi yang mendapat kenaikan pangkat luar biasa saat tergabung dalam tim Bareskrim, yang melumpuhkan teroris Dr Azahari dan kelompoknya di Batu, Malang, Jawa Timur, 9 November 2005.

Dia mendapat penghargaan dari Kapolri saat itu, Jenderal Sutanto bersama dengan para kompatriotnya, Idham Azis, Petrus Reinhard Golose, serta Rycko Amelza Dahniel, dkk.

loading...