HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Seorang Pastor California Puji Penembakan Klub LGBT di Orlando

5

HARIANACEH.co.id — Seorang pastor asal California memicu kontroversi setelah memuji pembantaian di kelab malam yang biasa dikunjungi gay, lesbian, biseksual dan transgender (LGBT) di Orlando.

Penembakan massal terburuk dalam sejarah Amerika Serikat (AS) itu menewaskan 49 orang dan melukai 53 lainnya. Laporan awal menyebutkan adanya 50 korban tewas, karena meliputi pelaku bernama Omar Mateen yang ditembak mati dalam penyerbuan polisi.

“Hari ini, orang-orang bilang, apakah kamu sedih karena ada 50 gay tewas?” ujar pastor Roger Jimenez di hadapan ratusan orang di Gereja Verity Baptist di Sacramento.

“Nah begini, itu sama saja seperti bertanya kepada saya, ‘hei, apakah kamu sedih bahwa 50 paedofil tewas hari ini?’ Tidak. Menurut saya, itu justru hebat. Saya rasa itu membantu masyarakat. Saya rasa Orlando, Florida, lebih aman malam ini,” sambung dia.

Pernyataan kontroversial itu disampaikan Jimenez pada Minggu, hanya beberapa jam setelah pembantaian di kelab malam Pulse terjadi. Rekamannya kemudian diunggah ke YouTube, sebelum akhirnya dihapus.

Komunitas LGBT dan juga otoritas setempat mengecam keras pernyataan Jimenez.

“Komentar kebencian yang disampaikan seorang pastor di Sacramento tidak merefleksikan nilai-nilai Kristiani dan tidak boleh disebutkan di masyarakat kita,” kata Wali Kota Sacramento Kevin Johnson dalam sebuah tweet, seperti dilansir AFP, Selasa (14/6/2016).

Tidak Terkejut

Parade Gay di Los Angeles
Parade Gay di Los Angeles, (AFP)

Dave Garcia, pemimpin kebijakan di sebuah pusat LGBT di Los Angeles mengaku dirinya tidak terkejut dengan komentar Jimenez. Ia menyebut pernyataan kontroversial semacam itu sudah biasa diterima komunitas LGBT.

“Meski mereka tidak menembakkan senjata atau membunuh anggota komunitas kami, mereka mengisi senjata api dengan peluru kebencian,” tutur Garcia.

Jimenez bersikukuh pernyataannya dibuat di luar konteks, dan kemarahan yang muncul disebutnya sebagai serangan terhadap kebebasan berbicara dan beragama.

Pastor itu menambahkan dirinya hanya mengutip Alkitab dan mengklaim komentarnya merefleksikan opini banyak orang di Negeri Paman Sam.

“Poin saya adalah jika ada orang yang sudah divonis mati oleh Tuhan, maka kita tidak perlu berduka,” ujar Jimenez, yang mengaku mendapat banyak ancaman setelah pernyataan kontroversialnya.

Hingga saat ini pihak gereja Verity belum dapat dimintai komentar.

Tragedi Orlando bukan serangan pertama terhadap komunitas gay di AS. Eric Rudolph, yang berada di balik pengeboman Atlanta Olympics pada 1996, telah menyimpan sebuah bom yang melukai lima orang di bar lesbian.

Menurut analisis kejahatan versi FBI pada 2011, LGBT dua kali lebih mungkin menjadi korban dari kejahatan kebencian ketimbang orang Yahudi atau kulit hitam di AS.

loading...