HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Masa Tahanan Tiga Pimpinan Gafatar Diperpanjang

8

HARIANACEH.co.idBareskrim Polri memperpanjang masa tahanan ketiga pimpinan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Mereka adalah ‘Nabi’ Al-Qiyadah Al-Islamiyah, Ahmad Moshaddeq/Musaddeq/Musadek alias Abdussalam, Andri Cahyo, dan Mahful Muis Tamanurung.

Direktur Tindak Pidna Umum Bareskrim Polri Brigjen Agus Andrianto mengatakan, masa tahanan ketiga tersangka diperpanjang hingga 40 hari. Menurutnya, penyidik masih memerlukan waktu untuk melengkapi berkas pemeriksaan.

“Kami minta 40 hari perpanjangan masa tahanan. Kami sudah kirim berkas ke kejaksaan seminggu lalu. Sudah diteliti, tahap satu namanya,” kata Agus di Mabes Polri, Jalan Turnojoyo, Jakarta Selatan, Kamis (16/6/2016).

Agus tidak menerangkan lebih detil berkas pemeriksaan yang perlu dilengkapi hingga memerlukan perpanjangan masa tahanan. “Itu ada kewenangan kepolisian, itu ada mekanismenya,” ujarnya.

Warga tolak keberadaan Gafatar
Warga tolak keberadaan Gafatar, (Antara/Irwansyah)

Bareskrim Polri menangkap Musadek pada 25 Mei 2016. Musadek ditangkap karena diduga telah menistakan agama dan merencanakan makar. Ia diringkus bersama dua pimpinan Gafatar Mahful Muis Tumanurung dan Andri Cahya.

Ahmad Musadek terancam Pasal 155 huruf a dan Pasal 156 huruf b tentang Penodaan Agama dengan tuntutan maksimal lima tahun penjara.

Sementara Andri dan Mahful Muis Tamanurung dijerat Pasal 110 ayat 1, Jo 107 ayat 1 dan 2 dengan ancaman hukuman seumur hidup atau 20 tahun.

Musadek adalah sosok di balik berdirinya organisasi kemasyarakatan Gafatar. Pada 2007, Musadek pernah dipenjara empat tahun terkait penodaan agama dengan aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang dibentuknya.

Gafatar di Indonesia berawal dari Al-Qiyadah al-Islamiyah. Ini aliran kepercayaan di Indonesia yang melakukan sinkretisme (penggabungan) antara ajaran Alquran, Alkitab Injil, dan Yahudi serta wahyu yang diakui kepada pemimpinnya.

Pimpinan Gafatar
Gerakan tolak Gafatar. (Antara/irwansyah)

Musadek menganggap dirinya sebagai nabi atau mesias. Wahyu yang turun pada Musadek diakui bukan kitab melainkan pemahaman yang benar dan aplikatif mengenai ayat-ayat Alquran yang menurut Musadek telah disimpangkan sepanjang sejarah.

Usai ajaran Musadek berkembang pada 4 Oktober 2007, Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan Fatwa Nomor 4 Tahun 2007 yang menyatakan alira Al-Qiyadah Al-Islamiyah sesat.

Setahun setelahnya Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memvonis Musadek empat tahun penjara dipotong masa tahanan.

Empat tahun di penjara tak membuat Musadek berhenti. Meski mengaku sudah bertobat, Musadek kembali menyebarkan ajaran Al-Qiyadah Al-Islamiyah. Musadek menggunakan nama lain yaitu Milah Abraham kemudian berubah menjadi Gafatar.

loading...
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time