HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Ade Komarudin Sesali Kriminalisasi Pada Guru

12

HARIANACEH.co.id — Ketua DPR RI Ade Komarudin menyesali kriminalisasi terhadap guru yang menimpa Nurmayani Salam, guru Biologi SMP 1 kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, dan Samhudi, guru SMP Raden Rahmad Balongbendo, Sidoarjo, Jawa Timur.

Menurut Ade Komarudin, sebaiknya pasal yang mengatur tindak kekerasan pada anak kembali dikaji ulang.

“Ini yang kita sesalkan. Undang-undang (UU) nomor 35 tahun 2014 ini adalah produk penyempurnaan UU nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Harusnya tidak kontraproduktif terhadap usaha pendisiplinan anak murid di sekolah,” ucap Ade, dalam keterangan pers, Senin (4/7/2016).

Politikus Golkar ini menegaskan bahwa definisi tindak kekerasan terhadap anak yang diatur dalam pasal 1 ayat 16 UU 35/2014 tersebut harus dikaji ulang dan dijelaskan kepada masyarakat mengenai batasannya.

“Kalau sampai meninggalkan luka fisik dan psikis memang harus diusut, tapi tidak boleh semuanya dianggap tindak kekerasan. Masak cubit dikit, langsung lapor polisi,” ujar Ade.

Dijelaskan Ade, semua elemen pendidikan harus terlibat aktif dalam mendisiplinkan anak, termasuk para orang tua.

“Paradigmanya harus diubah. Disiplin itu dibangun dari keluarga dan sekolah. Harus kerja sama. Kalau ada cubit-cubit dikit, jangan langsung bawa ke pengadilan. Kasihan guru-guru, nanti mereka serba salah,” ucap Ade.

Demikian juga pihak sekolah harus diberikan ruang untuk menjelaskan dan mendamaikan perselisihan tentang tindakan indisipliner. Terlebih jika kasus-kasus yang dilaporkan melibatkan orang tua yang berlatar belakang penegak hukum.

“Penegak hukum harusnya menjadi contoh. Bukan malah mengompori untuk membawa ke pengadilan,” kata Ade.

Marak diberitakan, dua orang guru sekolah menengah dituding melakukan tindak kekerasan fisik dan kasusnya dibawa ke pengadilan. Mereka adalah Nurmayani Salam, guru Biologi SMP 1 kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, dan Samhudi, guru SMP Raden Rahmad Balongbendo, Sidoarjo, Jawa Timur.

Nurmayani Salam resmi menjadi tahanan polres Bantaeng sejak Kamis, 12 Mei 2016. Ia dipidana penjara karena diputuskan bersalah karena mencubit salah seorang anak muridnya yang enggan menjalani sholat Dhuha. Namun saat ini dirinya telah menerima inkcraht dari Pengadilan Negeri Bantaeng.

Sementara, Samhudi masih akan menghadapi sidang lanjutan kasusnya pada 18 Juli 2016. Dia dituduh melakukan tindak kekerasan fisik terhadap anak, dengan melakukan aksi smackdown dan mencubit seorang muridnya ketika menolak ikut salat Dhuha yang sudah menjadi rutinitas di sekolah.

Komentar
Sedang Loading...
Memuat