HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Aset Pelaku Pemalsuan Vaksin Mulai Disita

10

HARIANACEH.co.id — Penyidik Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri berupaya membuat jera para produsen vaksin palsu dengan menyita aset yang mereka miliki. Aset yang disita itu ialah sebuah mobil milik dua tersangka bernama Hidayat Taufiqurahman dan Rita Agustina yang harganya kurang lebih Rp500 juta.

Sebelumnya, penyidik telah menetapkan 18 tersangka terdiri atas pembuat, distributor, dan tenaga medis yang terlibat dalam kasus vaksin palsu. Mereka ditangkap di Bekasi; Jakarta; Tangerang, Banten; dan Semarang, Jawa Tengah. Dua dari 18 tersangka tidak ditahan karena masih di bawah umur.

Mereka dijerat dengan Pasal 196 jo Pasal 98 dan atau Pasal 197 jo Pasal 106 dan atau Pasal 198 jo Pasal 108 Undang-Undang No 36/2009 tentang Kesehatan serta Pasal 62 jo Pasal 8 Undang-Undang No 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Agung Setya, di Jakarta, kemarin, juga mengatakan empat rumah sakit diduga membeli vaksin palsu. Hanya, identitas rumah sakit itu belum bisa diungkap dengan alasan penyidik masih mendalami dan barang bukti ditakutkan akan dihilangkan. Dia menambahkan, selain penyidik yang bekerja dalam upaya penegakan hukum, tim dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) yang tergabung dalam Satuan Tugas Penanganan Kasus Vaksin Palsu melakukan tindak lanjut sesuai dengan kompetensi.

Kemenkes beserta jajaran mereka di dinas kesehatan setiap provinsi mendata para anak balita yang diimunisasi dengan vaksin palsu. Para anak balita itu nantinya akan divaksin ulang. Badan POM bekerja untuk memastikan ketersediaan dan keaslian vaksin di rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya serta mengawasi distribusinya. Mereka juga meneliti kandungan dari vaksin yang dipalsukan itu.

Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Maura Linda Sitanggang juga menekankan siapa pun pelaku pembuatan vaksin palsu harus ditangani secara hukum. Hal itu mengingat pemberi vaksin palsu antara lain bidan dan produsen vaksin palsu juga merupakan bekas perawat.

Sementara itu, di Provinsi Bali, hingga Kamis (7/7) dinas kesehatan setempat menyatakan belum menemukan indikasi peredaran vaksin palsu.

Komentar
Sedang Loading...
Memuat