HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Pansus DPRA: Pelabuhan Feri Samatiga, Harus Cepat Difungsikan

2

HARIANACEH.co.id, Meulaboh — Tim Pansus DPRA mendesak Kementerian Perhubungan dan Dinas Perhubungan Aceh segera memfungsikan pelabuhan penyeberangan atau feri di Samatiga, Aceh Barat. Apalagi mengingat keberadaan pelabuhan sudah rampung, sehingga pelayaran Meulaboh (Aceh Barat)-Sinabang (Simeulue) segera terwujud.

Hal itu disampaikan anggota DPRA, Zaenal Abidin SSi kepada Serambi, Rabu (3/8) di sela Pansus ke pelabuhan feri bersama tiga anggota DPRA lainnya, Zuriat Suparjo SP, Jasmi Has, dan Abdullah Saleh yang turut didampingi tim dari Dinas Perhubungan Aceh.

Di lokasi pelabuhan tim Pansus DPRA melihat pengerjaan sisi darat proyek dari APBA 2015. “Kita minta segera difungsikan, sehingga pelayaran yang sudah terhenti sekitar 11 tahun dapat kembali dibuka,” ujar Zaenal.

Ia mengaku, dari pemantauan tim Pansus DPRA bahwa keberadaan pelabuhan menelan dana miliaran rupiah dari APBN dan APBA itu sudah rampung dikerjakan, sehingga tidak dibiarkan lama. Harapan sama juga diungkap Zuriat Suparjo, yang berharap pengerjaan fisik yang belum rampung harus dituntaskan.

Menurut Zuriat, keberadaan pelabuhan tersebut sudah lama dinantikan masyarakat di wilayah barat selatan Aceh sebagai jalur transportasi laut ke Simeulue. Selama ini penduduk Simeulue terpaksa menggunakan pelabuhan di Labuhan Haji di Aceh Selatan, sementara penduduk Simeulue banyak berada di Aceh Barat yang merupakan kabupaten induk sebelum pemekaran.

Sementara itu, Akmal, staf dari Dinas Perhubungan Aceh yang ikut bersama tim Pansus DPRA menyatakan, dari surat diperoleh bahwa uji sandar kapal feri sebelumnya dijadwalkan pada 19 Juli, tetapi gagal karena faktor cuara buruk. “Sesuai jadwal Jumat ini uji coba sandar. Semoga terealisasi. Sebab sudah pernah batal,” katanya.

Ia mengaku, uji sandar kapal feri dalam rangka merampungkan proses uji coba pelabuhan penyeberangan ini sehingga ke depan diharapkan dapat segera difungsikan. Namun, sempat berkembang bahwa proses peresmian sebelumnya pernah dijadwalkan pada19 Mei 2016 lalu, tetapi gagal dan kembali disebut-sebut diundur ke bulan September.

Tim Pansus DPRA menyatakan, tanggul laut di Desa Padang Seurahet, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat, butuh bangunan lagi sepanjang 100 meter. Alasannya, tanggul yang sudah dibangun tahun 2015 silam sepanjang 154 meter masih belum mampu menahan air pasang laut yang masih sering meluap ke daratan.

Hal itu dikatakan anggota tim Pansus DPRA, Zuriat Suparjo didampingi Zaenal Abidin SSi, Abdullah Saleh, dan Jasmi Has ketika pansus ke lokasi tersebut, Rabu (3/8) bersama tim dari Pemerintah Aceh. Tim DPRA melihat proyek tahap III tahun 2015 di Padang Seurahet sebesar Rp 4,7 miliar. “Kita coba usulkan tahun depan semoga terealisasi,” ujar Zuriat Suparjo.

Pernyatakan sama juga disampaikan Zaenal Abidin bahwa keberadaan tanggul di daerah yang pernah dihantam tsunami harus mendapat perioritas, sehingga penduduk dapat kembali menetap dengan aman. “Terhadap hasil di lapangan ini akan dibawa ke Banda Aceh akan disampaikan dalam paripurna dewan,” ujarnya.

Kabid Perhubungan Darat Dinas Perhubungan Aceh Barat, Dahlan mengungkapkan, bangunan dana dari APBA ini dalam bulan depan sudah digunakan sebagai kantornya. Yakni, kantor baru pindah dari Meureubo. “Segera kita difungsikan,” ujar Dahlan.

Anggota Tim Pansus DPRA dari daerah pemilihan Aceh Barat, Aceh Jaya, Nagan Raya dan Simelue sehari sebelumnya turun di Aceh Jaya. Mereka menemukan kontruksi lanjutan pembangunan makam Poe Teumeureuhom di Kecamatan Jaya, Aceh Jaya yang tidak pernah rampung-rampung.

Dana yang dikuncurkan tahun 2015 sebesar Rp 786 juta dan sudah dikuncurkan selama empat tahun terakhir. “Kita meminta Dinas Pariwisata Aceh selaku yang bertanggung jawab terhadap lokasi itu bisa segera difungsikan,” kata Zaenal Abidin.

loading...